Raja Thailand Cabut Gelar Selir karena Berambisi Saingi Ratu

CNN Indonesia | Selasa, 22/10/2019 11:27 WIB
Raja Thailand Cabut Gelar Selir karena Berambisi Saingi Ratu Raja Thailand, Maha Vajiralongkorn, mencabut semua gelar kehormatan selirnya, Sineenat Wongvajirapakdi, karena dianggap berambisi menyaingi ratu. (AFP Photo/Lillian Suwanrumpha)
Jakarta, CNN Indonesia -- Raja Thailand, Maha Vajiralongkorn, mencabut semua gelar kehormatan selirnya, Sineenat Wongvajirapakdi, karena dianggap berambisi menyaingi posisi ratu.

Melalui surat perintah kerajaan, Maha resmi mencabut gelar Chao Khun Phra dari Sineenat karena "tidak setia pada raja" dan "bertindak melawan penunjukan Ratu [Suthida] karena ambisinya sendiri."

"Ia tak menunjukkan hormat kepada raja dan tidak mengerti tradisi kerajaan. Tindaknnya hanya untuk menguntungkan diri sendiri," demikian bunyi pernyataan Kerajaan Thailand yang dikutip AFP.
Selir yang biasa dipanggil Koi tersebut baru saja menerima gelar Chao Khun Phra saat perayaan ulang tahun Maha Vajiralongkorn pada 28 Juli lalu.


Dua bulan sebelumnya, tepatnya pada Mei, Maha Vajiralongkron mempersunting Suthida, yang otomatis mendapatkan gelar ratu.

Suthida merupakan mantan pramugari Thai Airways. Sempat menjadi tim keamanan Vajiralongkorn, Suthida kemudian diberi gelar jenderal pada 2016 lalu.
Sementara itu, Koi merupakan lulusan Akademi Keperawatan Tentara Kerajaan Thailand dan langsung bertugas tak lama setelah lulus di usia 23 tahun.

Selain dilatih menjadi pilot, Koi juga tergabung dalam tim pengawal kerajaan. Menjelang pelantikan Vajiralongkorn, Koi diberi gelar mayor jenderal.

Dalam prosesi pelantikan Maha Vajiralongkorn beberapa hari setelah pernikahan dengan Suthida, Koi terlihat dalam arak-arakan militer menggunakan seragam lengkap.

[Gambas:Video CNN]
Seorang analis dari Naresuan University, Paul Chambers, mengatakan bahwa Maha Vajiralongkorn secara tiba-tiba memutuskan untuk melucuti semua gelar Koi untuk menunjukkan kewenangannya.

"Tindakan raja tersebut menunjukkan bahwa ia berharap dapat dilihat sebagai monarki yang sangat memegang kendali dan tidak akan membiarkan kemungkinan perpecahan dalam institusi kerajaan," ucap Chambers. (has/has)