Militer Thailand Tuding Oposisi Hendak Makar

CNN Indonesia | Senin, 07/10/2019 02:05 WIB
Militer Thailand Tuding Oposisi Hendak Makar Ketua Partai Future Forward Thailand, Thanathorn Juangroongruangkit. (AFP PHOTO / LILLIAN SUWANRUMPHA)
Jakarta, CNN Indonesia -- Angkatan bersenjata Thailand menuduh partai oposisi hendak melakukan makar. Mereka bahkan melaporkan enam tokoh politik ke kepolisian setempat.

Seperti dilansir AFP, Minggu (6/10), kemelut ini diawali dari seminar yang digelar pada Sabtu (5/10) di Kota Pattani. Seminar itu membahas peluang merevisi undang-undang militer.


Sejumlah ilmuwan dan politikus oposisi yang dipimpin jutawan Thanathorn Juangroongruangkit hadir dalam seminar itu. Selain membahas peluang revisi untuk memangkas wewenang militer, mereka juga membahas jalan keluar untuk mengakhiri konflik di kawasan selatan Thailand.


Seminar itu dilaporkan disiarkan secara langsung melalui jaringan internet. Meski begitu, tak lama usai seminar militer justru melaporkan enam tokoh oposisi dengan tuduhan makar.

"Bagian dari perdebatan berisi fakta-fakta yang terdistrosi yang dapat menyebabkan kekacauan, ketidaktaatan publik, atau bahkan kerusuhan," kata kuasa hukum militer Thailand, Burin Thongpraphai, usai mendaftarkan pengaduan.

Pihak militer juga melaporkan sejumlah akademisi yang dituduh hendak makar. Salah satu anggota Partai Pheu Thai, Paradorn Pattanathabut,yang menolak kewenangan militer yang terlalu besar menyatakan langkah ini sama saja perwujudan untuk membungkam kebebasan berekspresi.
[Gambas:Video CNN]

Jika laporan itu diproses, maka sejumlah tokoh itu bisa diseret ke pengadilan. Bila nanti terbukti bersalah, maka mereka terancam hukuman maksimal hingga tujuh tahun penjara.

Masalah konflik di selatan Thailand sudah berlangsung selama 15 tahun. Diperkirakan sampai saat ini sudah 7000 orang meninggal dalam pertikaian itu.

Penduduk di kawasan selatan Thailand mendesak supaya mereka diberi kewenangan lebih luar (otonomi). Sebab, Kerajaan Thailand menaklukkan wilayah yang penduduknya mayoritas etnis Melayu yang memeluk Islam sekitar lebih dari 100 tahun lalu.

Thanathorn yang memimpin Partai Future Forward selama ini gencar menyuarakan aspirasi untuk melakukan revisi undang-undang dasar Thailand, guna memangkas pengaruh militer dalam politik. Perolehan suara partainya juga mengejutkan banyak pihak dalam pemilihan umum pada Maret lalu.

Partai Future Forward berhasil menempati posisi ketiga dengan didukung kalangan generasi muda yang menolak militer ikut campur dalam politik.

Meski begitu, Thanathorn terbelit sejumlah persoalan hukum. Dia dilaporkan menyalahi aturan karena masih menguasai saham perusahaan media massa ketika bersaing menjadi anggota parlemen.

Jika terbukti bersalah, Thanathorn bisa dipenjara dan dilarang berpolitik seumur hidup. (mjo/ayp)