Warga Chile Kesulitan Cari Sembako Akibat Kerusuhan

CNN Indonesia | Kamis, 24/10/2019 00:23 WIB
Warga Chile Kesulitan Cari Sembako Akibat Kerusuhan Ilustrasi kerusuhan di Chile. (AFP PHOTO / Martin BERNETTI)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kerusuhan yang dipicu aksi demonstrasi di Chile sudah memasuki hari kelima. Kondisi itu mulai menyulitkan penduduk karena mereka kesusahan mendapatkan bahan makanan dan bahan bakar, serta khawatir harta benda mereka dijarah.

Seperti dilansir Associated Press, Rabu (23/10), sampai saat ini tercatat korban tewas dalam kerusuhan di Chile mencapai 15 orang. Pemerintah setempat juga memutuskan menetapkan status darurat nasional terhadap delapan dari 16 provinsi di negara itu.


Mereka juga menerapkan jam malam selain di luar situasi bencana alam. Hal ini menjadi yang pertama kali setelah negara itu kembali menerapkan demokrasi pada 1990, usai melalui fase diktator berdarah selama 17 tahun yang dipimpin Jenderal Augusto Pinochet.


Saat itu militer mengkudeta pemerintahan yang dipimpin Salvador Allende pada 11 September 1973.

Demonstran dan polisi masih terlibat bentrokan di sejumlah wilayah. Sedangkan para penjarah menyerbu toko-toko di Ibu Kota Santiago dan kota-kota lainnya.

Polisi dan tentara ditugaskan untuk menjaga sejumlah gerai swalayan. Hal itu membuat warga setempat kesulitan membeli kebutuhan pokok.

"Saya sudah berjalan beberapa kilometer untuk mencari susu, tetapi swalayan besar tetap tutup dan toko di dekat rumah saya sudah kehabisan stok," kata seorang warga, Carmen Fuentealba.

[Gambas:Video CNN]

Sejumlah toko, stasiun kereta bawah tanah, dan bank hangus akibat dibakar massa. Sebagian lagi rusak karena dijarah.

Warga Chile juga mengaku sudah kesulitan menarik uang melalui anjungan tunai mandiri. Antrean mengular para penduduk untuk membeli bahan bakar juga terjadi di banyak stasiun pengisian bahan bakar.

Situasi itu juga membuat kegiatan usaha dan kerja terhenti. Selain itu, diperkirakan dua juta pelajar dan mahasiswa tidak bisa sekolah atau kuliah karena seluruh lembaga pendidikan ditutup sementara waktu.

Gejolak di Chile dipicu kenaikan tarif transportasi umum khusus pada jam sibuk sebesar US$1,17 (sekitar Rp16 ribu). Padahal pada Januari lalu ongkos transportasi umum setempat juga sudah dinaikkan.

Pemerintah beralasan mengambil kebijakan itu karena kenaikan harga bahan bakar minyak dan nilai tukar Peso yang melemah.

Masyarakat Chile juga mengkritik pemerintah karena lambatnya pertumbuhan ekonomi, dan mendesak untuk mengubah undang-undang tenaga kerja, perpajakan, serta jaminan pensiun.


Presiden Sebastian Piñera memutuskan membatalkan kenaikan tarif transportasi umum. Dia juga berencana menaikkan tunjangan pensiun, upah minimum regional dan menunda kenaikan tarif dasar listrik.

Di sisi lain, Piñera juga berencana menaikkan pajak kepada orang-orang yang berpenghasilan di atas US$11 ribu (sekitar Rp154 juta). Langkah itu diharapkan bisa meredakan amarah massa. (ayp/ayp)