Diplomat AS Akui Trump Tahan Bantuan Untuk Tekan Ukraina

CNN Indonesia | Rabu, 23/10/2019 22:46 WIB
Diplomat AS Akui Trump Tahan Bantuan Untuk Tekan Ukraina Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. (AFP PHOTO / MANDEL NGAN)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pelaksana tugas Duta Besar Amerika Serikat di Kiev, Bill Taylor, mengaku bahwa Presiden Donald Trump berupaya menggunakan bantuan militer bersyarat untuk menekan Ukraina supaya menyelidiki keluarga Joe Biden, pesaingnya menjelang pemilihan presiden 2020. Kesaksian itu dianggap semakin memberatkan dalam penyelidikan proses pemakzulan yang dilakukan Dewan Perwakilan.

Taylor juga mengatakan Trump berulang kali berupaya mengatur pertemuan dengan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, demi mendesak kepentingan pribadi.


Hal itu diutarakan Taylor dalam kesaksian di depan komite Kongres yang bertugas dalam penyelidikan pemakzulan Trump. Meski digelar tertutup, rekaman pernyataan Taylor segera bocor ke publik.


Dalam rekaman itu, Taylor mengaku tak lama setelah ia tiba di Kiev untuk memulai tugasnya, ia merasa khawatir.

"Bahwa hubungan kita dengan Ukraina pada dasarnya dirusak oleh jalur informal tidak teratur para pembuat kebijakan AS dan dengan menahan bantuan keamanan vital karena alasan politik domestik," demikian kata Taylor dalam rekaman.

Taylor menuturkan proses lobi informal itu dijalankan oleh Trump melalui beberapa utusan seperti pengacara pribadi, Rudy Giuliani, mantan Menteri Energi, Rick Perry, Duta Besar AS untuk Uni Eropa Gordon Sondland, dan utusan khusus AS untuk Ukraina, Kurt Volker.

Para pembantu Trump itu disebut diminta untuk membujuk Zelensky agar mau membuka penyelidikan terkait anak Joe Biden, Hunter Biden, yang diduga tersangkut kasus korupsi selama menjabat sebagai anggota komisaris perusahaan energi Ukraina, Burisma.

[Gambas:Video CNN]

Hal itu dilakukan dengan harapan mampu merusak citra Partai Demokrat dan Joe Biden menjelang pemilihan umum dan presiden pada 2020 mendatang.

Dikutip dari The Guardian, Rabu (23/10), Taylor menuturkan bahwa salah satu isi percakapan telepon Sondland jelas-jelas menggambarkan bahwa Trump menjanjikan Zelensky bantuan militer dan pertemuan tinggi dengan Trump di Gedung Putih jika mau menyelidiki dugaan korupsi Hunter.

Selain meminta penyelidikan terhadap Hunter Biden, Trump juga meminta Ukraina melakukan investigasi terhadap peran negara Eropa Timur itu dalam pilpres AS 2016 lalu. Hal itu diminta Trump setelah sejumlah teori konspirasi menyebutkan bahwa Ukraina ikut campur dalam pemungutan suara di pilpres 2016 untuk membantu Partai Demokrat.

"Dalam panggilan telepon itu, Dubes Sonland mengatakan kepada saya bahwa Trump telah mengatakan kepadanya bahwa dia ingin Presiden Zelensky menyatakan secara terbuka bahwa Ukraina akan menyelidiki kasus Burisma dan dugaan campur tangan Ukraina dalam pemilu 2016," kata Taylor dalam pernyataannya.

"Sonland mengatakan semuanya tergantung pada pengumuman (penyelidikan) itu, termasuk bantuan keamanan. Presiden Trump menginginkan Presiden Zelensky membuat pernyataan publik tentang perintah penyelidikan semacam itu," papar Taylor.


Taylor merupakan salah satu pejabat pemerintah AS yang dipanggil untuk bersaksi di depan Kongres, terkait penyelidikan proses pemakzulan Trump yang digagas fraksi Partai Demokrat di Dewan Perwakilan AS. Sampai saat ini, kesaksian Taylor dinilai menjadi yang paling memberatkan Trump.

Partai Demokrat menyatakan kesaksian Taylor menjadi bukti paling jelas sampai saat ini yang menunjukkan bahwa Trump memang diduga menyalahgunakan jabatannya.

Sementara itu, juru bicara Gedung Putih, Stephanie Grisham, mengecam kesaksian Taylor dan Kongres. Dia menyatakan hal itu sebagai kampanye kotor terkoordinasi dari anggota parlemen sayap kiri dan birokrat radikal yang tidak terpilih dalam perang melawan konstitusi. (rds/ayp)