Cerita Veronica Koman saat Dianggap 'Musuh' Nomor Satu Negara

CNN Indonesia | Kamis, 24/10/2019 09:29 WIB
Cerita Veronica Koman saat Dianggap 'Musuh' Nomor Satu Negara Di hadapan publik Australia, Veronica Koman berterima kasih kepada keluarganya yang tetap setia meski kini ia digambarkan bak musuh nomor satu negara. (Screenshot via Facebook VeronicaKoman)
Jakarta, CNN Indonesia -- Di hadapan publik AustraliaVeronica Koman berterima kasih kepada keluarganya yang tetap setia meski sekarang aktivis sekaligus pengacara hak asasi manusia untuk urusan Papua itu digambarkan bak musuh nomor satu negara.

"Saya berterima kasih kepada keluarga saya atas kesabarannya yang luar biasa. Seakan-akan masa remaja saya belum cukup menimbulkan masalah bagi mereka, kini mereka harus menghadapi bahwa saya kini digambarkan di publik bak musuh negara nomor satu," ujar Veronica seperti dilansir melalui Facebook.

Veronica menyampaikan pernyataan itu saat menerima penghargaan Sir Ronald Wilson Human Rights Award dari Australian Council for International Development (ACFID) pada Rabu (23/10).


Di awal pidatonya, Veronica menyamakan penderitaan dan perjuangan Aborigin di Australia dengan orang Papua di tanahnya sendiri.

Menurutnya, akibat operasi gabungan aparat keamanan, kini setidaknya 60 ribu warga sipil mengungsi di Papua, termasuk di Nduga.
Dari keseluruhan warga Nduga yang mengungsi sejak Desember tahun lalu, 189 di antaranya, termasuk anak-anak, meninggal akibat kelaparan dan penyakit.

"Pemerintah Indonesia tidak senang ketika saya membagikan video-video yang menunjukkan lebih dari seratus ribu orang West Papua turun ke jalan di seluruh West Papua dan Indonesia pada Agustus dan September ini, meminta referendum penentuan nasib sendiri," ucap Veronica.

Ia pun mempersembahkan penghargaan dari ACFID tersebut kepada semua korban tindak kekerasan aparat, juga 22 tahanan politik yang dikenakan pasal makar dalam dua bulan belakangan.

"Akhir kata, saya berharap supaya penghargaan tahun ini bisa meningkatkan kesadaran di Australia tentang pelanggaran HAM yang dialami orang West Papua dan penyangkalan terhadap hak fundamental atas penentuan nasib sendiri mereka yang telah berlangsung selama puluhan tahun," katanya.
Nama Veronica sendiri kini masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) Polda Jawa Timur karena tak kunjung memenuhi panggilan pemeriksaan sebagai tersangka kasus provokasi dan penyebaran informasi bohong dalam insiden asrama mahasiswa Papua di Surabaya.

Meski Indonesia sudah meminta Interpol mengeluarkan red notice, Australia bergeming. Veronica bahkan dengan bebas berbicara di hadapan parlemen Australia untuk menyoroti pelanggaran HAM di Papua. (has/asa)