Uni Eropa Masih Pikir-pikir soal Usul Penundaan Brexit

CNN Indonesia | Jumat, 25/10/2019 19:06 WIB
Uni Eropa Masih Pikir-pikir soal Usul Penundaan Brexit Perdana Menteri Inggris Boris Johnson. (Tolga AKMEN / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perwakilan negara Uni Eropa masih mempertimbangkan berapa lama jangka waktu yang diberikan untuk menunda Brexit. Langkah itu diambil menyusul permintaan Perdana Menteri Boris Johnson untuk menangguhkan proses Inggris keluar dari blok tersebut.

Diplomat dari 27 negara Uni Eropa bertemu di Brussels hari ini, Jumat (25/10), untuk mendiskusikan apakah blok tersebut bersedia memperpanjang tenggat waktu hingga Januari 2020 bagi Inggris untuk menyelesaikan proses keluar keanggotaan.


Sejumlah anggota Uni Eropa, terutama Prancis, menolak memberikan perpanjangan waktu bagi Inggris jika pemerintahan Johnson mau menggelar pemilihan umum.


"Satu hal yang ingin kami lihat adalah pemilihan umum, ini merupakan salah satu cara untuk memperlihatkan bahwa mereka (Inggris) terorganisir. Kami tidak melakukan fiksi politik, kami membutuhkan fakta untuk membuat keputusan," kata Menteri Prancis urusan Eropa, Amelie de Montchalin seperti dikutip AFP.

"Kita harus tahu alasan kita memberi mereka (Inggris) waktu," ujarnya menambahkan.

[Gambas:Video CNN]

Dalam rapat terakhir, sebagian besar negara Uni Eropa seperti Jerman dan Irlandia mendukung penundaan Brexit hingga 31 Januari mendatang. Namun, Prancis meminta jangka waktu penundaan dipercepat.

Setelah berkeras bisa mengeluarkan Inggris dari Uni Eropa pada 31 Oktober, PM Johnson akhirnya mengirim surat kepada Uni Eropa untuk memohon penundaan Brexit.


Surat tersebut dikirim Johnson setelah anggota parlemen memaksa dirinya untuk menunda Brexit yang jatuh tempo pada 31 Oktober. Akan tetapi, Johnson tak menandatangani surat yang ditujukan kepada Presiden Dewan Eropa Donald Tusk itu.

Pemimpin Partai Konservatif tersebut lalu mengirim surat kedua yang menegaskan ia tidak meminta perpanjangan atas jatuh tempo Brexit, yang sebelumnya telah ditunda dua kali.


Kemarin, Johnson akhirnya menegaskan akan menggelar pemilihan umum pada 12 Desember mendatang dengan harapan dapat memecah kebuntuan proses Brexit. (rds/dea)