Akibat Protes Masif, Presiden Chile Umumkan Reshuffle Total

CNN Indonesia | Minggu, 27/10/2019 01:16 WIB
Akibat Protes Masif, Presiden Chile Umumkan Reshuffle Total Warga Chile melakukan demo besar-besaran, 22 Oktober 2019. (AFP/Pedro UGARTE)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Chile Sebastian Pinera mengumumkan perubahan alias reshuffle besar-besaran dalam kabinet pemerintahannya, Sabtu (26/10).

Itu dilakukan Pinera di tengah aksi unjuk rasa yang digelar secara masif oleh lebih dari sejuta warga negara itu sejak sepekan lalu.

"Saya meminta semua menteri untuk mundur demi bisa membentuk sebuah pemerintahan yang baru dan juga bisa memenuhi dari permintaan-permintaan baru ini," kata Pinera dalam pidato kenegaraan seperti dilansir AFP.


Ia juga menyatakan status darurat di negeri itu mungkin akan diangkat pada Minggu (27/10), dengan catatan telah terjadi sejumlah hal yang membuatnya bisa diwujudkan.

Unjuk rasa ini digelar setelah pemerintah memutuskan menaikkan tarif transportasi umum khusus pada jam sibuk sebesar US$1,17 atau sekitar Rp16 ribu. Pada Januari lalu, ongkos transportasi umum setempat juga sudah dinaikkan.

Unjuk rasa itu pun mengundang kericuhan. Akibat kericuhan ini, setidaknya 18 orang tewas, termasuk balita berumur empat tahun. Sebagian besar korban meninggal akibat terjebak saat menjarah toko yang kemudian dibakar.

Sebastian Piñera pun menetapkan status darurat nasional dan memberlakukan jam malam sejak akhir pekan lalu di Santiago.

[Gambas:Video CNN]
Pemerintah juga telah mengerahkan sedikitnya 20 ribu polisi dan tentara untuk meredam kerusuhan, termasuk dengan menggunakan gas air mata dan meriam air ke arah para pedemo.

Hal ini menjadi yang pertama kali setelah negara itu kembali menerapkan demokrasi pada 1990, usai melalui fase diktator berdarah selama 17 tahun yang dipimpin Jenderal Augusto Pinochet. Saat itu militer mengudeta pemerintahan yang dipimpin Salvador Allende pada 11 September 1973.

(AFP/kid)