Politikus Hong Kong Pro-Beijing Ditusuk Saat Kampanye

CNN Indonesia | Rabu, 06/11/2019 17:02 WIB
Politikus Hong Kong Pro-Beijing Ditusuk Saat Kampanye ilustrasi penusukan. (Istockphoto/Chingyunsong)
Jakarta, CNN Indonesia -- Politikus Hong Kong pro-Beijing Junius Ho (57) menjadi korban penusukan oleh orang tak dikenal saat kampanye di Tuen Mun, Rabu (6/11). Dikutip AFP, dia mengalami luka tusukan di bagian dada.

Sebuah video yang beredar di internet menunjukkan pelaku berpakaian biru mendatangi Ho lalu memberikan sebuket bunga dan mengajak foto bersama.

Tidak lama kemudian, ia langsung mengeluarkan pisau dari tas dan menusuk politikus tersebut. Sementara asisten Ho terluka di bagian tangan.



Dikutip dari CNN, kepolisian menyatakan kejadian itu menyebabkan tiga orang terluka termasuk pelaku. Ho hanya mengalami luka ringan dan telah dibawa ke rumah sakit.

Pelaku telah ditahan dengan tuduhan penyerangan yang menyebabkan luka-luka.

Berdasarkan laporan stasiun televisi RTHK, pelaku penusukan menuduh Ho terlibat serangan terhadap puluhan demonstran yang dilakukan sekelompok pria berpakaian putih di Yuen Long pada 21 Juli lalu.

Keterkaitan itu diperkuat oleh video yang menunjukkan Ho berjabat tangan dengan beberapa pria terduga pelaku serangan tersebut. Namun Ho berkilah pertemuan dengan para pria itu dilakukan sebelum serangan terjadi.

[Gambas:Video CNN]

Ho menjadi salah satu tokoh yang kurang disukai para demonstran selain Pemimpin Carrie Lam dan Kepala Polisi Stephen Lo. Dia kerap mengkritik unjuk rasa lewat Facebook dan media lokal. Dia juga diketahui mendukung kepolisian Hong Kong, mengecam para demonstran.

Penusukan Junius Ho merupakan kejadian terbaru dari serangan yang menargetkan beberapa politikus, aktivis, maupun masyarakat sipil selama demonstrasi yang telah menginjak pekan ke-22.

Sebelumnya, anggota parlemen Andrew Chiu, juga diserang hingga sebagian telinga kirinya luka karena digigit orang tidak dikenal. Dia diserang saat berada di pusat perbelanjaan Cityplaza, Tai Koo, pada akhir pekan lalu.


Hampir lima bulan terakhir ini Hong Kong terus dirongrong aksi demonstrasi. Unjuk rasa dipicu pembahasan RUU Ekstradisi itu belum juga menampakkan tanda akan berakhir.

Para demonstran garis keras Hong Kong saat ini juga semakin beringas untuk menyerang polisi. Tidak hanya itu, mereka juga turut merusak sejumlah fasilitas umum dan toko atau kantor perusahaan yang terkait dengan China.


Kini tuntutan para aktivis dan demonstran meluas hingga mendesak penerapan demokrasi menyeluruh dan menolak pengekangan oleh pemerintah China, meminta penyelidikan atas kekerasan polisi, dan meminta pemimpin Hong Kong, Carrie Lam, mundur. (fls/dea)