Eks Staf Twitter Dituduh Intel Saudi, Raja Salman Temui CIA

CNN Indonesia | Jumat, 08/11/2019 08:27 WIB
Eks Staf Twitter Dituduh Intel Saudi, Raja Salman Temui CIA Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Raja Arab SaudiSalman bin Abdulaziz Al Saud, bertemu Direktur Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) Gina Haspel di Riyadh, Kamis (7/11).

Media pemerintah menyebut pertemuan itu dilakukan setelah AS mengadili tiga orang, dua di antaranya mantan karyawan dengan tuduhan menjadi mata-mata untuk Arab Saudi.

"Raja dan Gina Haspel membahas sejumlah topik yang menjadi perhatian bersama," kata kantor berita pemerintah Saudi dikutip dari AFP. Namun tidak dijelaskan lebih rinci mengenai masalah yang dibahas.



Pertemuan tersebut juga dihadiri oleh sejumlah pejabat Saudi termasuk Menteri Luar Negeri Pangeran Faisal bin Farhan dan Kepala Intelijen Khalid al-Humaidan.

Pengadilan AS pada Rabu menuntut tiga orang, dua di antaranya warga Saudi dengan tuduhan memata-matai pengguna Twitter yang mengkritik keluarga kerajaan.

Seorang pejabat senior Saudi yang enggan identitasnya disebut mengatakan bahwa kerajaan belum melihat pengaduan pidana itu.

[Gambas:Video CNN]

"Tapi yang bisa saya katakan adalah bahwa kami berharap semua warga negara kami mematuhi hukum negara tempat mereka tinggal," kata pejabat itu kepada wartawan di Washington. Jaksa menuduh tiga orang tersebut telah menggali data pengguna pribadi akun Twitter yang mengkritik keluarga kerajaan.

The Washington Post melaporkan bahwa yang terakhir adalah pengkritik Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman (MbS), penguasa de facto kerajaan.


Hubungan antara dua sekutu erat Washington dan Riyadh sempat tegang usai pembunuhan jurnalis Saudi Jamal Khashoggi.

Khashoggi merupakan seorang kolumnis Washington Post yang kerap mengkritik MbS. Ia dinyatakan tewas di dalam gedung konsulat Saudi di Istanbul, Turki pada Oktober 2018 setelah sempat dinyatakan hilang.

CIA dilaporkan sudah menarik simpulan bahwa MbS terkait dengan pembunuhan jurnalis pengkritik rezim Raja Salman itu. Namun Riyadh membantah keras tuduhan itu.


Presiden Donald Trump sendiri tak pernah menuding langsung Pangeran Mohammed, tapi ia sepakat dengan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, bahwa "Upaya apa pun untuk menutupi insiden ini tak bisa dibiarkan." (dea)