Usai Jumpa Trump, Erdogan Tegaskan Tetap Beli S-400 Rusia

CNN Indonesia | Jumat, 15/11/2019 09:42 WIB
Usai Jumpa Trump, Erdogan Tegaskan Tetap Beli S-400 Rusia Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. (Presidential Press Service via AP, Pool)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menegaskan tidak akan membatalkan pembelian sistem pertahanan rudal S-400 Rusia untuk mendapatkan rudal Patriot buatan Amerika Serikat. Hal itu sampaikan Erdogan usai bertemu Presiden AS Donald Trump.

"Sangat tidak mungkin untuk meninggalkan S-400 dan beralih ke Patriot ketika kita berada pada titik ini," kata Erdogan kepada wartawan Turki di atas pesawat usai bertolak dari Washington, Kamis (14/11).


"Kami katakan 'Tapi kami akan membeli Patriot juga'. Namun, kami juga akan memiliki S-400," ujarnya dikutip harian Hurriyet dilansir dari AFP.


Erdogan dalam wawancara sebelumnya mengatakan bahwa Turki dan Rusia akan meningkatkan hubungan bilateral, dengan fokus pada isu-isu seperti gas alam dan meningkat kunjungan wisatawan Rusia ke Turki.

Menurut Erdogan, usulan untuk membeli Patriot sebagai pengganti S-400 adalah "penghinaan" terhadap kedaulatan Turki. "Kami sama sekali tidak berpikir ini benar," katanya.

[Gambas:Video CNN]

Turki merupakan sekutu AS di Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Namun pembelian S-400 memang membuat hubungan mereka tegang.

AS menyebut S-400 tidak kompatibel dengan NATO dan dapat menimbulkan ancaman bagi jet-jet F-35 Lockheed Martin Corp.

AS dan negara-negara anggota NATO khawatir sistem radar dalam S-400 dapat melacak jet F-35 sehingga nantinya akan sulit menghindari senjata Rusia.

Trump bahkan memutuskan membatalkan proyek penjualan jet tempur F-35 karena Turki tetap melanjutkan kontrak pembelian S-400 buatan Rusia.


AS lantas mengeluarkan Turki dari program F-35 setelah negara itu menerima pengiriman tahap pertama S-400 pada Juli lalu.

AS berulangkali mengancam akan menjatuhkan sanksi jika Turki tetap melanjutkan pembelian sistem rudal buatan Rusia itu. Akan tetapi Turki bergeming.

Pada 2017 lalu, Trump memberlakukan Undang-Undang Penerapan Sanksi untuk Melawan Musuh-Musuh AS (Countering America's Adversaries Through Sanctions Act/CAATSA).

UU tersebut melegalkan AS memberlakukan sanksi ekonomi terhadap negara-negara yang melakukan bisnis pertahanan dan intelijen dengan Rusia, Korea Utara, dan Iran.


Dalam konferensi pers bersama Erdogan di Gedung Putih pada Rabu lalu, Trump mengatakan akuisisi Turki atas S-400 telah menciptakan beberapa tantangan yang sangat serius bagi keduanya, dan mereka akan terus membicarakannya.

Dia mengatakan para menteri luar negeri dan penasihat keamanan nasional kedua negara akan "segera bekerja untuk menyelesaikan masalah S-400". Sementara itu Turki telah merencanakan pembelian lebih dari 100 pesawat tempur canggih. (dea)