Eks Jenderal India Serukan Pemerkosaan Massal Muslim Kashmir

CNN Indonesia | Selasa, 19/11/2019 18:19 WIB
Eks Jenderal India Serukan Pemerkosaan Massal Muslim Kashmir Ilustrasi. (Istockphoto/Coldsnowstorm)
Jakarta, CNN Indonesia -- Seorang mantan Mayor Jenderal Angkatan Darat India, SP Sinha, dikecam keras usai menyerukan pemerkosaan dan pembunuhan massal terhadap perempuan Muslim di Kashmir.

Pernyataan kontroversial itu muncul dari mulut Sinha ketika menjadi pembicara dalam salah satu acara bincang-bincang politik di channel TV Bharatvarsh.

Dalam acara tersebut Sinha terlibat debat kusir dengan sejumlah panelis lainnya saat berdiskusi mengenai gelombang eksodus keluarga non-Muslim dari Lembah Kashmir.



Kashmir hingga saat ini masih menjadi wilayah yang disengketakan India dan Pakistan. Relasi kedua negara bahkan tengah merenggang menyusul bentrokan yang kembali terjadi di perbatasan India-Pakistan di Kashmir belakangan ini.

Sejak 1990-an, warga non-Muslim terutama umat Hindu di wilayah Kashmir banyak yang menjadi korban kekerasan kelompok pemberontak Muslim hingga memicu gelombang eksodus pengungsi ke wilayah lainnya di India.

[Gambas:Video CNN]

Pada salah satu segmen, suasana perdebatan kian panas sampai-sampai para pembicara saling berteriak dalam mempertahankan argumen masing-masing.

Dikutip RT, saat puncak perdebatan, Sinha menyerukan pandangannya bahwa "kematian harus dibayar dengan kematian, dan pemerkosaan juga harus dibayar dengan pemerkosaan."

Pernyataan Sinha itu dengan cepat memicu kecaman dari para panelis lainnya, termasuk seorang presenter perempuan yang turut serta dalam acara tersebut.

Sinha didesak untuk segera meminta maaf terkait pernyataannya itu namun menolak.


Sinha bahkan melemparkan pernyataan tersebut kepada para penonton yang hadir. Beberapa orang, termasuk penonton wanita, mendukung pernyataan Sinha.

Rekaman gambar diskusi itu tersebar luas di media sosial dan menjadi viral. Banyak netizen yang mengecam pernyataan Sinha tersebut.

Sejumlah kalangan veteran, termasuk mantan Letnan Jenderal sekaligus eks Direktur Jenderal Operasi Militer India, Vinod Bhatia, menganggap Sinha hanya membuat pernyataan kontroversial itu untuk ketenaran sesaat.

Selain Bhatia, mantan letnan jenderal Syed Ata Hasnain juga menyebut Sinha sebagai "rudal yang rusak."


Sementara itu, Angkatan Darat India enggan berkomentar terkait pernyataan Sinha tersebut. New Delhi menganggap seorang pensiunan perwira tidak terikat oleh kode etik militer.

Sejak acara tersebut, Sinha pun sulit untuk dihubungi dan dimintai pernyataan lanjutan. (rds/dea)