Dokumen China Bocor Ungkap Operasi Penahanan Etnis Uighur

CNN Indonesia | Senin, 18/11/2019 13:22 WIB
Dokumen China Bocor Ungkap Operasi Penahanan Etnis Uighur Ilustrasi keseharian Muslim Uighur di Xinjiang. (Greg Baker / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dokumen internal pemerintah China bocor ke media menunjukkan bahwa Presiden Xi Jinping memerintahkan para pejabat untuk bertindak "tanpa belas kasih" terhadap etnis minoritas Muslim di Xinjiang, Uighur.

Dokumen ini diungkap oleh seorang anggota lembaga politik di China. Ia berharap pengungkapan dokumen itu bisa mencegah pemerintahan Xi "lolos dari kesalahan terkait penahanan massal."

Dokumen setebal 403 halaman yang berhasil didapat The New York Times itu juga mengungkap pidato dan arahan Xi kepada para bawahannya untuk melakukan pengawasan dan pengendalian terhadap populasi etnis Uighur yang sebagian besar tinggal di Xinjiang.



Dalam salah satu pidatonya pada 2014 lalu yang juga tertulis dalam dokumen itu, Xi menyerukan "perjuangan melawan terorisme, infiltrasi, dan separatisme secara habis-habisan" menggunakan "organ kediktatoran" tanpa menunjukkan "belas kasihan sama sekali".

Pidato itu dibuat Xi tak lama setelah gerilyawan etnis Uighur menyerang stasiun kereta di barat daya China hingga menewaskan 31 orang.

Selama ini, China memang menjadi sorotan internasional lantaran dituding mempersekusi etnis Uighur dan etnis minoritas Muslim lainnya di Xinjiang.

Sejumlah laporan kelompok hak asasi manusia memaparkan lebih dari satu juta warga Uighur dan etnis minoritas lainnya di Xinjiang telah ditahan China dalam tempat penampungan layaknya kamp konsentrasi.

[Gambas:Video CNN]

Dokumen itu juga menerangkan bahwa kamp-kamp penahanan berkembang pesat di Xinjiang setelah pengangkatan politikus China, Chen Quanguo, sebagai ketua baru Partai Komunis di wilayah itu pada 2016.

New York Times menuturkan Chen sempat membagikan pidato Xi untuk membenarkan tindakan keras dan mendesak para pejabat untuk "menahan semua orang yang harus ditangkap."

Dalam lingkup Partai Komunis, Chen terkenal karena kerap menangani kelompok-kelompok minoritas. Ia juga pernah memimpin penerapan kebijakan yang membungkam perbedaan pendapat di Tibet.


Dokumen bocor itu juga memaparkan bahwa ada ketidakpuasan dalam tubuh Partai Komunis China terkait tindakan keras pemerintah di Xinjiang.

Tak hanya itu, dokumen tersebut juga memuat panduan bagi pejabat pemerintah untuk menjawab pertanyaan dari siswa yang pulang ke Xinjiang terkait anggota keluarganya yang hilang atau ditahan di kamp.

Pejabat diinstruksikan untuk mengatakan kepada para siswa bahwa anggota keluarga yang hilang telah terinfeksi "virus" pemahaman ekstremisme sehingga perlu dirawat "sebelum penyakit kecil itu menjadi serius".


Hingga berita ini diturunkan, Kementerian Luar Negeri China dan pemerintah daerah Xinjiang belum menanggapi pertanyaan AFP terkait isi dokumen yang bocor tersebut. (rds/dea)