Trump Tuduh Mantan Dubes Ukraina Tolak Pajang Foto Presiden

CNN Indonesia | Sabtu, 23/11/2019 18:45 WIB
Trump Tuduh Mantan Dubes Ukraina Tolak Pajang Foto Presiden Presiden AS Donald Trump. (Jim WATSON / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyerang mantan duta besar untuk Ukraina Marie Yovanovitch dengan mengatakan menolak memajang foto sang presiden di kedubes di Kiev. Yovanovitch merupakan salah satu saksi dalam penyelidikan pemakzulan Trump.

"Duta besar yang dikatakan orang-orang sangat luar biasa, dia tidak mau memajang foto saya di kedutaan," kata Trump dalam wawancara telepon dengan program "Fox and Friends."

Yovanovitch memberikan kesaksian terkait pemecatannya secara tiba-tiba sebagai duta besar di depan Komite Intelijen Dewan Perwakilan AS pada pekan lalu.


Saat itu sia mengaku dicopot karena dijelek-jelekkan oleh pengacara pribadi Trump Rudy Giuliani terkait pemberantasan korupsi di Ukraina.


Saat Yovanovitch bersaksi, Trump menuliskan hinaan lewat Twitter.

Trump mengaku mendengar hal buruk tentang Yovanovitch. Kata dia, veteran diplomat itu tidak disukai oleh Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.

"Wanita ini bukan malaikat, setuju?" kata Trump. "Ada banyak hal yang dia lakukan yang saya tidak suka," ujarnya dikutip dari cbsnews, Sabtu (23/11).

Yovanovitch diangkat menjadi Duta Besar AS di Ukraina pada 2016. Dia kemudian dipecat pada Mei 2019.

Saat dikonfirmasi soal foto, kedubes AS di Kiev tidak menjawab permintaan komentar.

[Gambas:Video CNN]

Namun, seorang anggota tim hukum Yovanovitch mengatakan kedutaan telah memajang foto Trump, Wakil Presiden Mike Pence, dan menteri luar negeri segera setelah mereka tiba dari Washington.

Sejauh ini Dewan Perwakilan AS sudah memeriksa tiga saksi dalam dengar pendapat investigasi pemakzulan Trump.

Selain Yovanovitch, sidang yang digagas faksi Partai Demokrat itu mendatangkan dua diplomat senior, Duta Besar AS untuk Ukraina William Taylor dan Asisten Deputi Menteri Luar Negeri AS George Kent untuk memberikan kesaksian.


Penyelidikan pemakzulan Trump dibuka setelah sang presiden terindikasi menyalahgunakan wewenang untuk menekan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky supaya melakukan penyelidikan terhadap anak Joe Biden, Hunter. Joe Biden bakal menjadi rival Trump di pilpres mendatang.

Trump dituduh menekan Zelensky dengan cara menahan bantuan militer AS. Melalui beberapa kali komunikasi telepon, Trump meminta Zelensky untuk menyelidiki dugaan korupsi yang dilakukan Hunter Biden, yang merupakan anggota komisaris perusahaan energi Ukraina, Burisma.

Dalam salah satu perbincangan di telepon, Trump dan Zelensky disebut sempat membahas soal Yovanovitch. Trump menyebut Yovanovitch "berita buruk."


Kasus dugaan korupsi itu diduga dibuat-buat lantaran Trump tidak memiliki bukti awal. (dea)