Pelaku Teror London Ingin Bangun Sekolah Khusus Teroris

CNN Indonesia | Sabtu, 30/11/2019 12:20 WIB
Pelaku teror di London Bridge merupakan mantan napi terorisme yang bercita-cita membangun sekolah terorisme di Kashmir, Pakistan. Jenazah pelaku serangan teror di London Bridge, London, Inggris. (AP Photo/Matt Dunham)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bertahun-tahun sebelum Usman Khan ditembak polisi setelah melakukan serangan pisau di London Bridge, pihak berwenang mengatakan dia berencana untuk memulai "fasilitas pelatihan militer teroris."

Khan (28) diidentifikasi sebagai tersangka dalam serangan London pada Jumat (29/11) yang menewaskan dua orang dan tiga orang lainnya cedera, kata Asisten Komisaris Polisi Metropolitan Neil Basu.

Dia dibebaskan dari penjara pada Desember 2018 dengan monitor yang disematkan pada pergelangan kaki, setelah dia mengaku bersalah atas tuduhan terorisme pada 2012.


Berikut beberapa fakta mengenai Khan:

1. Sempat dipenjara

Pada 2010, Khan dan delapan orang lainnya ditangkap di London sebagai bagian dari operasi kontraterorisme besar-besaran.

Beberapa orang dituduh melakukan tuduhan teror atas "rencana yang terinspirasi al-Qaeda" untuk membom London Stock Exchange, kata polisi Inggris saat itu.

Khan, yang berasal dari Pakistan, mengakui pelanggaran teror lainnya yang melibatkan penggalangan dana dan perekrutan untuk pembangunan fasilitas pelatihan militer teroris dengan kedok lembaga pendidikan, di tanah milik keluarganya di Kashmir, menurut dokumen pengadilan dari kasus tersebut.

Pihak berwenang mengatakan tanah keluarga Khan sudah memiliki masjid di atasnya dan mereka yang terlibat dalam rencana itu mencari dana untuk "membangun dan mengoperasikan fasilitas pelatihan militer teroris," menurut sebuah dokumen.

Khan dan tersangka lain dalam kasus itu dituduh berencana melatih orang-orang di fasilitas itu dengan tujuan menjadikan mereka "teroris yang lebih serius dan efektif," kata dokumen itu.

Mereka dituduh menghadiri pertemuan operasional, penggalangan dana, dan persiapan untuk bepergian ke luar negeri untuk "terlibat dalam pelatihan aksi terorisme," menurut pernyataan hukuman.

Khan mengaku bersalah pada tahun 2012 atas dakwaan itu dan dijatuhi hukuman 16 tahun penjara karena perannya.

Pada saat hukumannya, Wakil Asisten Komisaris Stuart Osborne, koordinator nasional senior untuk kontra terorisme, mengatakan operasi itu adalah salah satu operasi kontra terorisme yang paling kompleks pada saat itu.

"Kami memiliki jaringan orang-orang yang sangat berbahaya yang berbasis di tiga kota yang bekerja bersama untuk merencanakan serangan teroris di Inggris," kata Osborne.

"Seandainya kami tidak mengambil tindakan untuk menggerebek jaringan ini, aksi mereka bakal mengakibatkan jatuhnya korban luka dan tewas."

Selama penyelidikan pada 2010, hampir 1.000 petugas polisi terlibat dalam operasi itu, yang melibatkan pemantauan jaringan berisi sekelompok pria di Staffordshire, Wales dan London, kata Osborne.

Pasukan kontra terorisme nasional dan layanan keamanan terlibat dalam operasi tersebut.

Khan dibebaskan dari penjara pada 2018 dengan monitor pergelangan kaki, kata polisi.

Sebelum serangan hari Jumat, ia tinggal di daerah Staffordshire di Inggris, sekitar 150 mil barat laut London, kata pihak berwenang.

2. Datang ke acara Universitas Cambridge sebelum penyerangan

Khan menghadiri sebuah acara di Aula Fishmonger's, kata Basu, asisten komisaris.

Basu melanjutkan dengan mengatakan, "Kami percaya serangan itu dimulai di dalam sebelum ia meninggalkan gedung dan melanjutkan ke Jembatan."

Acara ini dijadwalkan mulai pukul 11 siang hingga 4 sore untuk alumni yang merayakan peringatan lima tahun Learning Together Network.

Kelompok itu, sebuah jaringan akademis dan organisasi peradilan pidana, berafiliasi dengan Institut Kriminologi Universitas Cambridge, kata situs web untuk acara tersebut.

Universitas Cambridge menulis cuitan Twitter pada hari Jumat (29/11), mengatakan "kami sangat prihatin dengan laporan bahwa staf Universitas Cambridge, mahasiswa dan alumni terjebak dalam insiden di London Bridge."

Stephen Toope, wakil rektor Cambridge, mengatakan dia sangat terpukul mengetahui bahwa staf, mahasiswa, dan alumni yang menghadiri acara yang diselenggarakan oleh Institute of Criminology di universitas mungkin menjadi korban selama serangan itu.

[Gambas:Video CNN]

(ard/ard)