500 Ribu Warga Prancis Mogok Massal Tolak Kebijakan Macron

CNN Indonesia | Jumat, 06/12/2019 17:33 WIB
Lebih dari 500 ribu warga memenuhi jalan-jalan utama Prancis sebagai aksi mogok massal menentang kebijakan Presiden Emmanuel Macron mengubah sistem pensiun. Demo mogok massal di Prancis. (Foto: AP Photo/Thibault Camus)
Jakarta, CNN Indonesia -- Aksi mogok massal yang melibatkan serikat pekerja, buruh, dan sejumlah asosiasi guru di Prancis memasuki hari kedua pada Jumat (6/12). Di samping layanan transportasi lumpuh, mogok massal di hari kedua juga dilaporkan berujung ricuh setelah polisi berusaha membubarkan massa dengan menembakkan gas air mata.

Aksi mogok yang terjadi di Paris, Lyon, dan Nantes dibubarkan polisi untuk memisahkan beberapa kelompok peserta aksi. Kendati demikian, aksi serupa di sejumlah wilayah lain dilaporkan tetap berjalan damai.

Berdasarkan penghitungan resmi seperti dilansir AFP, lebih dari 500 ribu warga memenuhi jalan-jalan utama Prancis. Namun serikat buruh mengatakan jumlah tersebut dilaporkan belum termasuk 250 ribu buruh yang ikut turun ke jalan.


Kepala Konfederasi Umum Perburuhan Kekuatan Pekerja (FO) Yves Veyrier mengatakan aksi mogok massal ini dapat berlangsung setidaknya hingga Senin pekan depan. Rencana demo tersebut bergantung pada sikap pemerintah dalam memenuhi tuntutan pedemo.

Sekretaris jenderal Konfederasi Serikat Buruh (CGT), Phillipe Martinez menuturkan aksi mogok kali ini tidak akan terhenti pada malam hari.

"Aksi mogok tidak akan berhenti pada malam hari," ujarnya.

[Gambas:Video CNN]

Mogok massal kali ini terjadi dipicu rencana Presiden Emmanuel Macron untuk mengubah aturan jam kerja untuk pegawai yang bekerja di sektor layanan masyarakat.

Para pekerja khawatir perubahan itu akan menambah jam kerja mereka dan memangkas nilai jaminan pensiun. Untuk membujuk para pemimpin serikat, Kementerian Perhubungan Prancis menyatakan akan berunding demi meredakan ketegangan.

"Kami berhak atas cuti yang ditanggung selama lima pekan, sistem jaminan kesehatan, Itu adalah hak orang-orang yang berjuang dan mengorbankan diri setiap hari," kata seorang anggota Serikat Buruh Kereta Api, Gilles Pierre.

Akibat mogok massal kali ini, sejumlah layanan fasilitas umum seperti transportasi, sekolah, hingga tempat wisata tutup.

Kereta cepat Prancis, SNCF pada Kamis (5/12) terpaksa menunda 9 dari 10 perjalanan kereta dan hanya mengoperasikan 30 persen kereta regional.

Sementara 10 jalur kereta bawah tanah akan ditutup dan jadwal perjalanan empat jalur akan dikurangi menjadi dua rute yang tetap beroperasi normal.

Mogok massal juga memengaruhi rute penerbangan maskapai Air France yang memangkas jadwal penerbangan sekitar 30 persen. (fls/evn)