Aksi mogok yang terjadi di Paris, Lyon, dan Nantes dibubarkan polisi untuk memisahkan beberapa kelompok peserta aksi. Kendati demikian, aksi serupa di sejumlah wilayah lain dilaporkan tetap berjalan damai.
Berdasarkan penghitungan resmi seperti dilansir AFP, lebih dari 500 ribu warga memenuhi jalan-jalan utama Prancis. Namun serikat buruh mengatakan jumlah tersebut dilaporkan belum termasuk 250 ribu buruh yang ikut turun ke jalan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sekretaris jenderal Konfederasi Serikat Buruh (CGT), Phillipe Martinez menuturkan aksi mogok kali ini tidak akan terhenti pada malam hari.
"Aksi mogok tidak akan berhenti pada malam hari," ujarnya.
[Gambas:Video CNN]
Mogok massal kali ini terjadi dipicu rencana Presiden Emmanuel Macron untuk mengubah aturan jam kerja untuk pegawai yang bekerja di sektor layanan masyarakat.
Para pekerja khawatir perubahan itu akan menambah jam kerja mereka dan memangkas nilai jaminan pensiun. Untuk membujuk para pemimpin serikat, Kementerian Perhubungan Prancis menyatakan akan berunding demi meredakan ketegangan.
"Kami berhak atas cuti yang ditanggung selama lima pekan, sistem jaminan kesehatan, Itu adalah hak orang-orang yang berjuang dan mengorbankan diri setiap hari," kata seorang anggota Serikat Buruh Kereta Api, Gilles Pierre.
Kereta cepat Prancis, SNCF pada Kamis (5/12) terpaksa menunda 9 dari 10 perjalanan kereta dan hanya mengoperasikan 30 persen kereta regional.
Sementara 10 jalur kereta bawah tanah akan ditutup dan jadwal perjalanan empat jalur akan dikurangi menjadi dua rute yang tetap beroperasi normal.
Mogok massal juga memengaruhi rute penerbangan maskapai Air France yang memangkas jadwal penerbangan sekitar 30 persen. (fls/evn)