Seperti dilansir AFP, Minggu (8/12), penduduk Kosovo yang kebanyakan etnis Albania terkejut ketika mengetahui kabar pemberian anugerah Nobel terhadap Handke. Sebab, mereka menganggap Handke bersikap mendukung kekejaman pasukan Serbia terhadap warga Albania dan Bosnia yang mayoritas merupakan Muslim.
Menteri Luar Negeri Kosovo, Behgjet Pacolli, menyatakan tidak akan mengirim perwakilan untuk menghadiri upacara pemberian Hadiah Nobel di Stockholm, Swedia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Slobodan Milosevic adalah salah satu pemimpin Serbia dalam konflik di wilayah Balkan pada 1990-an, usai Uni Soviet runtuh.
[Gambas:Video CNN]
Foto Handke yang mengunjungi lokasi pembantaian di Srebrenica, Bosnia setahun setelah kejadian beredar luas. Di dalam foto itu dia terlihat berdiri di depan papan petunjuk kota.
Pada Juli 1995, pasukan Bosnia Serbia membantai sekitar 8000 pemuda dan lelaki Muslim Bosnia di Srebrenica.
Pada 1997, Handke disebut sengaja merekayasa fakta untuk tidak menonjolkan kekejaman pasukan Serbia dalam buku A Journey to the Rivers: Justice for Serbia.
Handke juga dikritik saat memberikan pidato dalam upacara penguburan Milosevich pada 2006. Saat itu Milosevich meninggal saat tengah menanti persidangan atas dugaan kejahatan genosida, kejahatan perang, dan kejahatan terhadap kemanusiaan.