Kosovo Boikot Hadiah Nobel Sastrawan Peter Handke

CNN Indonesia | Senin, 09/12/2019 09:35 WIB
Kosovo Boikot Hadiah Nobel Sastrawan Peter Handke Sastrawan asal Austria, Peter Handke. (Jonas Ekstromer/TT News Agency via AP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Kosovo menyatakan akan memboikot pemberian penghargaan Hadiah Nobel dalam bidang sastra terhadap sastrawan asal Austria, Peter Handke. Penyebabnya adalah dia dianggap mendukung kejahatan perang yang dilakukan pasukan Serbia dalam perang di bekas negara Yugoslavia pada 1990-an.

Seperti dilansir AFP, Minggu (8/12), penduduk Kosovo yang kebanyakan etnis Albania terkejut ketika mengetahui kabar pemberian anugerah Nobel terhadap Handke. Sebab, mereka menganggap Handke bersikap mendukung kekejaman pasukan Serbia terhadap warga Albania dan Bosnia yang mayoritas merupakan Muslim.
Kosovo terlibat perang Serbia pada 1998 sampai 1999 dan berhasil melepaskan diri.

Menteri Luar Negeri Kosovo, Behgjet Pacolli, menyatakan tidak akan mengirim perwakilan untuk menghadiri upacara pemberian Hadiah Nobel di Stockholm, Swedia.


"Kami melakukan boikot terkait pemenang Hadiah Nobel yang kontroversial Peter Handke, teman dan pendukung kebijakan Milosevic," tulis Pacolli dalam unggahan di Facebook.

Slobodan Milosevic adalah salah satu pemimpin Serbia dalam konflik di wilayah Balkan pada 1990-an, usai Uni Soviet runtuh.

[Gambas:Video CNN]

Foto Handke yang mengunjungi lokasi pembantaian di Srebrenica, Bosnia setahun setelah kejadian beredar luas. Di dalam foto itu dia terlihat berdiri di depan papan petunjuk kota.

Pada Juli 1995, pasukan Bosnia Serbia membantai sekitar 8000 pemuda dan lelaki Muslim Bosnia di Srebrenica.

Pada 1997, Handke disebut sengaja merekayasa fakta untuk tidak menonjolkan kekejaman pasukan Serbia dalam buku A Journey to the Rivers: Justice for Serbia.

Handke juga dikritik saat memberikan pidato dalam upacara penguburan Milosevich pada 2006. Saat itu Milosevich meninggal saat tengah menanti persidangan atas dugaan kejahatan genosida, kejahatan perang, dan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Akibat polemik ini, dua anggota komite Nobel mundur pada awak pekan ini. Seorang sejarawan dan penulis asal Swedia, Peter Englund, menyatakan akan memboikot upacara pemberian Hadiah Nobel pada 10 Desember mendatang. (ayp/ayp)