Sapi Bantuan Australia untuk Indonesia Banyak yang Mati

CNN Indonesia | Senin, 09/12/2019 19:35 WIB
Sapi Bantuan Australia untuk Indonesia Banyak yang Mati Ilustrasi sapi. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Stasiun televisi Australia, ABC, mengungkap ratusan sapi yang dikirim ke Indonesia terkait program bantuan ternak hidup pada tahun lalu banyak yang kurus atau mati. Padahal, seharusnya sapi-sapi itu bisa hidup selama 20 tahun jika dirawat dengan baik untuk tujuan swasembada kebutuhan daging dalam negeri.

Seperti dilansir ABC, Senin (9/12), ratusan sapi asal Australia itu disebar kepada para peternak kecil di Jawa dan Sumatera. Diperkirakan ada sekitar 2,500 ekor sapi bantuan yang dikirim pada tahun lalu.
Dari hasil ulasan yang dilakukan pemerintah Australia terungkap sekitar 72 ekor sapi, atau sekitar 3 persen dari keseluruhan bantuan, ditemukan mati pada Juni lalu. Sedangkan berdasarkan hasil penelitian lembaga riset LiveCorp, sekitar 300 sapi bantuan Australia untuk Indonesia ditemukan dalam keadaan kurus.

Pemerintah Australia sampai saat ini enggan menanggapi soal masalah itu. Akan tetapi, kalangan industri pertanian di Negeri Kanguru justru khawatir jika polemik ini diangkat maka akan mempengaruhi perdagangan sapi impor dengan Indonesia yang nilainya mencapai Rp7,6 triliun.


Direktur Eksekutif Dewan Eksportir Ternak Hidup Australia, Mark Harvey-Sutton, mengaku terkejut dengan kenyataan banyak sapi impor dari negaranya justru kelaparan atau mati di Indonesia. Dia menyatakan sudah memperingatkan soal kesejahteraan hewan dan hal seperti ini bisa terjadi, sebelum pemerintah kedua negara sepakat melakukan kerja sama.

"Kami prihatin atas situasi ini, dan kami sudah menyampaikan keprihatinan ini kepada pemerintah Australia," kata Harvey.

Harvey-Sutton menyatakan harus ada perbaikan jika kerja sama ekspor ternak hidup akan dilanjutkan kedua negara.

[Gambas:Video CNN]

"Jika di masa mendatang ada permintaan ekspor ternak hidup, kita harus mencari cara lain untuk memberi bantuan supaya hal ini tidak terjadi lagi," ujar Harvey.

Harvey mengatakan tidak seluruh peternak Indonesia gagal merawat sapi asal Australia. Dia berharap hal ini bisa diselesaikan dengan mudah tanpa harus dibawa ke ranah politik luar negeri yang rumit.

"Kalau pemerintah Australia dan Indonesia membawa masalah ini ke tingkat diplomatik, maka hal ini akan membuat proses penyelesaian menjadi semakin rumit," ujar Harvey.

Menteri Pertanian Australia, Bridget McKenzie, menyatakan sudah meminta anak buahnya mencari cara untuk menyelesaikan masalah ini di tingkat peternak.

"Kita memiliki hubungan kuat dan panjang dengan Indonesia terkait perdagangan daging sapi," kata McKenzie.
Kementerian Pertanian Australia menyatakan mereka memang tidak memiliki aturan untuk mengurus ternak hidup yang diekspor ketika sudah tiba di negara tujuan.

"Kami sedang berkoordinasi dengan kalangan industri di Australia dan Indonesia untuk memperbaiki manajemen ternak hidup setelah mereka sampai di negara tujuan," demikian pernyataan Kementerian Pertanian Australia. (ayp/ayp)