Seperti dilansir Associated Press, Selasa (10/12), IFJ menyatakan jurnalis yang menjadi korban pembunuhan sepanjang tahun ini mencapai 49 orang. Jumlah itu lebih rendah dari 2018 lalu yang mencapai 95 orang.
Sagaga menyatakan jumlah itu lebih rendah karena para jurnalis nampaknya semakin berhati-hati dalam menjalankan tugas. Namun, lanjut dia, di sisi lain masyarakat jadi kurang mendapat informasi terkait kondisi dan dugaan pelanggaran HAM di wilayah konflik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Meski kami menyampaikan jumlah rekan-rekan jurnalis yang tewas saat bertugas menurun, tetapi kami melihat fakta bahwa sepertinya konflik-konflik ini tidak layak diliput oleh para profesional," kata Sagaga.
[Gambas:Video CNN]
Sagaga melanjutkan, banyak jurnalis menghindari meliput di wilayah konflik tahun ini karena tingkat kekerasan yang sangat tinggi.
IFJ beranggotakan 600 ribu pewarta dari 187 serikat dan asosiasi di lebih dari 140 negara. (ayp/ayp)