Bangladesh Mulai Pagari Kamp Pengungsi Rohingya di Perbatasan

CNN Indonesia | Kamis, 12/12/2019 00:30 WIB
Militer Bangladesh mulai membangun pagar di sekeliling kamp-kamp pengungsian etnis Rohingya di perbatasan, Rabu (11/12). Ilustrasi etnis Rohingya. (AFP PHOTO / Dibyangshu SARKAR)
Jakarta, CNN Indonesia -- Militer Bangladesh mulai membangun pagar di sekeliling kamp-kamp pengungsian etnis Rohingya di perbatasan, Rabu (11/12).

Seorang koresponden AFP melihat sekelompok pasukan berseragam militer mendirikan pilar untuk pagar kawat berduri di sekitar sebuah penampungan besar etnis Rohingya di Balukhali, tenggara Cox's Bazar.

Kamp itu dikabarkan menampung hampir satu juta anggota minoritas Rohingya.

Komisaris Urusan Pengungsi Bangladesh Mahhbub Alam Talukder mengatakan bahwa pembangunan pagar pembatas memang telah dimulai.


Namun, ia menolak berkomentar lebih lanjut terkait hal tersebut.

Sementara itu, Panglima Angkatan Darat Bangladesh, Jenderal Aziz Ahmed, menuturkan pihaknya memang telah mendirikan pilar-pilar.
[Gambas:Video CNN]
Militer, paparnya, juga telah memesan kawat berduri untuk dipasang di pilar-pilar tersebut.

Pembangunan pagar berduri ini dilakukan menyusul rasa frustasi Bangladesh yang terus harus menampung hampir 1 juta pengungsi Rohingya akibat krisis kemanusiaan di Negara Bagian Rakhine, Myanmar, pada pertengahan 2017 lalu.

Pihak berwenang Bangladesh bahkan mulai melarang para pengungsi meninggalkan kamp-kamp pengungsian.

Sejumlah pos-pos keamanan di sekitar kamp kerap mencegat Rohingya yang ingin pergi keluar tempat penampungan bahkan ke bagian negara lain di Bangladesh.

Selain pembatasan pergerakan, Bangladesh juga telah memblokir internet, menyita kartu izin mengemudi (SIM), dan telepon seluler di kamp-kamp pengungsian.

Serangkaian pembatasan itu, termasuk pembangunan pagar berduri, pun menuai protes dari sejumlah petinggi etnis Rohingya di Bangladesh.

Itu membatasi pergerakan kami. Kami harus berjalan jauh untuk mendapat jatah makanan dari pihak berwenang. Anak-anak tidak bisa bermain lagi," kata Mohammad Hashim, salah satu tokoh Rohingya di penampungan itu.

Di awal 2018, Bangladesh dan Myanmar sepakat memulai tahap pemulangan Rohingya ke Rakhine. Namun, hingga kini proses repatriasi itu tak menunjukkan progres. (rds/dea)