Trump Kembali Jatuhkan Sanksi kepada Maskapai Iran

CNN Indonesia | Kamis, 12/12/2019 10:48 WIB
Trump Kembali Jatuhkan Sanksi kepada Maskapai Iran Presiden AS, Donald Trump, menjatuhkan sanksi kepada perusahaan milik Iran untuk mendesak penghentian program rudal dan nuklir serta barter tahanan. (SAUL LOEB / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintahan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menjatuhkan sanksi kepada sejumlah perusahaan Iran, salah satunya maskapai Mahan Air. Mereka beralasan hal itu dilakukan supaya Iran menghentikan program pengembangan rudal dan nuklir.

"Kami menyampaikan kepada dunia jika ada yang terlibat transaksi tidak sah dengan sejumlah perusahaan ini maka mereka akan berada dalam bahaya dan bisa ikut terkena sanksi," kata Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, dalam jumpat pers di Washington, seperti dilansir Associated Press, Kamis (12/12).
Pompeo menyatakan sanksi itu diberikan kepada badan usaha negara Iran yang bergerak dalam bidang perkapalan (IRISL) dan perusahaan milik mereka yang bermarkas di China. Perusahaan kedua dituduh terlibat dalam pengiriman suku cadang rudal ke Iran.

Trump juga kembali memperberat sanksi terhadap maskapai Iran, Mahan Air, yang dituduh terlibat dalam pengiriman senjata kepada milisi Syiah di Libanon dan Yaman. Mereka juga menjatuhkan sanksi kepada tiga agen penjualan tiket Mahan Air.


Kementerian Keuangan dan Kementerian Luar Negeri AS menyatakan pemerintah asing atau entitas bisnis yang terlibat transaksi dengan perusahaan itu bakal dijatuhi sanksi. Salah satunya adalah membekukan aset mereka yang ada di wilayah hukum AS.

Pompeo menyatakan alasan lain menjatuhkan sanksi tambahan bagi sejumlah perusahaan Iran untuk mendesak negara itu kembali melakukan pertukaran sejumlah tahanan warga asing yang dijerat dengan tuduhan mata-mata.

[Gambas:Video CNN]

Pekan lalu, AS dan Iran melakukan barter tahanan dengan perantaraan Swiss. Iran membebaskan ilmuwan AS kelahiran China, Xiyue Wang, dan AS melepas seorang ilmuwan Iran, Massoud Soleimani.

AS mengatakan sampai saat ini Iran menahan seorang warga mereka dan lima orang yang mempunyai dwikewarganegaraan. Mereka adalah mantan anggota Angkatan Laut AS, Michael White, yang divonis 10 tahun penjara karena dituduh mata-mata.

Selain itu ada juga seorang pakar lingkungan, Morad Tahbaz, yang ditahan di Iran. Ada juga warga Inggris keturunan Iran, Nazanin Zaghari-Ratcliffe, yang dituduh sebagai mata-mata serta pasangan ayah dan anak, Siamak dan Baquer Namazi.

Sedangkan mantan agen Biro Penyelidik Federal AS (FBI), Robert Levinson, dilaporkan sudah 13 tahun hilang di Iran. Sedangkan Iran menuduh AS menahan 10 warganya.

Menanggapi sikap AS yang kembali menjatuhkan sejumlah sanksi, juru bicara perwakilan Iran untuk Perserikatan Bangsa-bangsa, Alireza Miryousefi, menyatakan mereka tidak akan gentar dengan hal itu.
"Sanksi yang ditujukan bagi warga sipil Iran tidak akan membuat mereka tunduk terhadap kekuatan asing. Ini adalah bentuk terorisme ekonomi dari AS terhadap Iran yang tidak akan pernah terpedaya dengan air mata buaya mereka," cuit Miryousefi. (ayp/ayp)