Diberi Peringatan Teror, Putin Ucapkan Terima Kasih ke Trump

CNN Indonesia | Senin, 30/12/2019 09:40 WIB
Diberi Peringatan Teror, Putin Ucapkan Terima Kasih ke Trump Ilustrasi Presiden Rusia, Vladimir Putin, bersama Presiden AS, Donald Trump. (AFP PHOTO / SAUL LOEB)
Jakarta, CNN Indonesia -- Amerika Serikat dilaporkan membantu Rusia dengan memberikan peringatan tentang potensi serangan teror di malam pergantian tahun di St. Petersburg. Alhasil, Presiden Rusia, Vladimir Putin, menyampaikan ucapan terima kasih kepada Presiden AS, Donald Trump, atas bantuan tersebut.

"Kami berterima kasih atas informasi yang diberikan melalui jalur khusus yang membuat kami berhasil mencegah aksi teror di Rusia," demikian isi pernyataan Kantor Kepresidenan Rusia, seperti dilansir AFP, Senin (30/12).


Menurut Badan Intelijen Rusia (FSB), dari informasi itu mereka berhasil menangkap dua orang terduga teroris yang berencana menggelar serangan teror saat peringatan pergantian tahun.


Pada 12 Desember lalu, Pengadilan Saint Petersburg, Rusia, menjatuhkan hukuman penjara sampai seumur hidup kepada 11 terdakwa kasus serangan bom di kereta bawah tanah pada April 2017 silam. Sebanyak 15 orang meninggal dan puluhan orang lainnya luka-luka dalam kejadian itu.

hakim menjatuhkan hukuman seumur hidup kepada salah satu pelaku, Abror Azimov (29). Dia diganjar hukuman itu karena terbukti membentuk dan terlibat dalam kelompok teroris.

Sedangkan seorang pelaku perempuan, Shokhista Karimova (48), diganjar hukuman 20 tahun penjara. Saat mendengar vonis, dia langsung histeris dan mengamuk di dalam ruang terdakwa.

[Gambas:Video CNN]

Sebanyak 9 terdakwa lainnya dijatuhi hukuman bervariasi antara 19 sampai 28 tahun penjara. Mereka disebut membantu Akbarjon Djaliliov (22) melakukan aksi bom bunuh diri dengan cara memberi uang dan bahan peledak.

Jaksa menyatakan para pelaku menyelundupkan senjata api dan membuat bom rakitan. Mereka juga dituduh membentuk dua kelompok teror di Moskow dan Saint Petersburg.

Akan tetapi, sejumlah pihak meragukan mereka adalah pelaku dan menduga menjadi korban jebakan yang dibuat FSB.

Kuasa hukum mengklaim perkara yang menjerat klien mereka dibuat-buat dan aparat sudah terlebih dulu merekayasa barang bukti.


Para terdakwa sebagian besar ditangkap di sejumlah kota di Rusia. Namun, salah satunya dibekuk saat berada di rumah sakit di Kyrgysztan. Mereka dituding menjadi pengikut Imam Shamil Battalion yang dianggap dekat dengan kelompok teroris Al-Qaidah. (ayp/ayp)