Awan Asap Karhutla Australia Dekati Amerika Selatan

CNN Indonesia | Selasa, 07/01/2020 14:39 WIB
Awan Asap Karhutla Australia Dekati Amerika Selatan Ilustrasi kabut asap kebakaran hutan Australia. (PETER PARKS / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Awan yang terbentuk akibat asap kebakaran hutan di Australia dilaporkan sudah terlihat Samudra Pasifik Selatan bergerak mendekati Chile dan Argentina. Menurut pantauan petugas badan meteorologi di kedua negara, awan itu berada sekitar 12,000 kilometer dari kedua negara.

Seperti dilansir AFP, Selasa (7/1), Kepala Badan Meteorologi Chile, Patricio Urra, menyatakan awan akibat asap itu berada pada ketinggian 6,000 meter di atas permukaan laut. Dia mengatakan awan asap itu kemungkinan besar tidak bakal turun kembali.


"Dampak yang bisa kita lihat adalah cahaya matahari terlihat kemerahan. Hal ini hanya terjadi jika cahaya matahari terhalang asap akibat kebakaran hutan," kata Urra.


Meski demikian, Urra menyatakan awan itu tidak mengancam warga Chile.

Sedangkan Badan Meteorologi Argentina memperlihatkan hasil citra satelit mengenai pergerakan awan asap karhutla. Menurut mereka, awan itu mulai bergerak dari arah barat ke timur.

Mereka juga membenarkan awan asap tersebut menyebabkan sinar matahari menjadi kemerahan. Menurut badan meteorologi Brasil, Metsil, awan itu diperkirakan bisa mencapai Negara Bagian Rio Grande del Sur.

Karhutla Australia terjadi sejak September 2019 sampai saat ini tercatat sudah menewaskan 25 orang, dan menghanguskan lebih dari 1,000 bangunan. Selain itu, diperkirakan sebesar 5,5 juta hektare lahan hangus dilahap si jago merah.

[Gambas:Video CNN]

Kebakaran hutan memang lazim terjadi di Australia ketika memasuki musim panas. Namun, dampak yang terjadi pada tahun ini dianggap sangat luas dan semakin membahayakan kehidupan manusia dan satwa.

Perdana Menteri Australia, Scott Morrison, menjadi sorotan karena pemerintahannya dianggap tidak sanggup mencegah kebakaran hutan yang dianggap sebagai dampak perubahan iklim. Kebijakannya mempertahankan industri tambang batu bara yang dianggap tidak ramah lingkungan juga dikecam kelompok oposisi dan pemerhati lingkungan.

Bikin merinding

Sejumlah penumpang pesawat maskapai Australia, Qantas, membagikan pengalaman mereka soal terbang menembus awan asap karhutla. Saking besarnya daerah yang terbakar, asap itu membentuk awan pyrocumulus.

Awan pyrocumulus terbentuk akibat fenomena kebakaran hutan atau letusan gunung. Awan tersebut berada di jalur penerbangan dan membuat pilot tidak mempunyai pilihan lain untuk menembusnya dan menyebabkan turbulensi.

"Pilot harus menaikkan pesawat lebih tinggi sebelum mendarat di Canberra," kata koordinator keselamatan penerbangan Qantas, Kapten Debbie Slade.

Salah seorang penumpang, Matt McIntyre, menyatakan ketika pesawat mendekati awan asap, dia hanya melihat langit berwarna kelabu dari jendela kabin.



"Lama-lama langit semakin gelap dan kami tidak tahu apa yang terjadi. Ada penumpang yang muntah akibat turbulensi," kata McIntyre.

Seorang penumpang lainnya, Hua Tuo, menyatakan pengalaman terbang menembus awan asap adalah hal yang mengerikan.



"Penerbangan paling mengerikan yang pernah saya alami, dari Melbourne menuju Canberra. Kami diselimuti kabut asap. Langit mendadak terlihat oranye, lalu kemudian gelap dan pesawat berguncang keras," kata Hua Tuo. (ayp/ayp)