Irak Klaim Dikontak Iran Soal Serangan ke Markas Militer AS

CNN Indonesia | Rabu, 08/01/2020 19:47 WIB
Irak Klaim Dikontak Iran Soal Serangan ke Markas Militer AS Ilustrasi serangan rudal. (Foto: OMAR HAJ KADOUR / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kantor perdana menteri Irak mengatakan telah menerima pesan dari Iran terkait rencana serangan rudal ke dua basis militer Amerika Serikat pada Rabu (8/1) dini hari.

Dalam pernyataan resmi seperti dirilis AFP, kantor perdana menteri Adel Abdel Mahdi mengatakan telah menerima peringat Iran terkait serangan tersebut.

"Kami menerima pesan verbal resmi dari pemerintah Iran bahwa mereka merespons kematian Qasem Soleimani telah dimulai atau akan segera dimulai, dan bahwa serangan itu akan terbatas pada basis militer AS yang berada di Irak," ungkapnya.


Di saat bersamaan, kantor perdana menteri Irak mengaku juga dihubungi oleh AS tak lama setelah pangkalan militer Al Asad dan Erbil di Irak dihantam rudal.

"[Tak lama setelah menerima pesan] kami segera memperingatkan komandan militer Irak untuk mengambil tindakan pencegahan," ungkapnya.

[Gambas:Video CNN]

Sebelumnya sumber Korps Pengawal Revolusi Iran (IRGC) mengklaim sekitar 80 tentara Amerika Serikat tewas dan 20 lainnya terluka dalam serangan tersebut. Mahdi memastikan tidak ada korban dari pihak tentara Irak.

Iran pada Rabu (8/1) dini hari melakukan serangan balasan dengan mengirim sekitar 15 rudal ke dua pangkalan militer AS di Irak. Presiden Donald Trump sempat mengklaim jika tidak ada korban jiwa akibat serangan tersebut.

Mahdi mengatakan tengah berupaya melakukan pembicaraan di dalam dan luar negeri untuk mencegah terjadinya perang terbuka.

"Irak menolak segala pelanggaran kedaulatan dan serangan terhadap wilayah," imbuhnya.

Stasiun televisi Iran menyebut serangan rudal ke pangkalan militer AS merupakan pembalasan atas serangan yang menewaskan Soleimani dan tiga tokoh lainnya. Jasad Soleimani dikenali dari cincin yang dikenakannya tak lama setelah serangan udara terjadi di Bandara Baghdad, Irak pada Jumat (3/1) pekan lalu. (AFP/evn)