Inggris-Jerman Minta Iran Setop Serang Basis Militer AS

CNN Indonesia | Rabu, 08/01/2020 21:34 WIB
Inggris-Jerman Minta Iran Setop Serang Basis Militer AS Ilustrasi serangan rudal. (Foto: Ozan KOSE / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Jerman meminta Iran menghentikan serangan rudal ke pangkalan militer yang berada di Irak. Juru bicara kanselir Angela Merkel, Steffen Seibert mengatakan Iran dan Amerika Serikat perlu saling menahan diri demi mengakhiri konflik.

Akibat ekskalasi konflik kedua negara, Jerman mengatakan menarik sementara 32 tentaranya dari sebuah kamp dekan Baghdad. Menteri Pertahanan Annegret Kramp-Karrenbauer menyebut tengah mempertimbangkan rencana menarik sebagian pasukannya dari Arbil.

Ia juga mengutuk tindakan Iran menyerang basis militer AS dan sekutu di Irak.


"Sekarang sangat penting bagi kita untuk tidak membiarkan konflik semakin memanas. Sekarang semua tergantung pada Iran untuk menahan diri dari ekskalasi lebih lanjut," ungkap Kramp-Karrenbauer seperti dilansir AFP.

Lebih lanjut ia mengatakan telah menjalin kontak dengan Pentagon untuk mencegah ekskalasi lebih lanjut.

Senada, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson juga meminta Iran untuk menahan diri dari serangan rudal lanjutan.

"Iran seharusnya tidak melanjutkan serangan sembrono dan berbahaya, sebaliknya proses ekskalasi justru lebih mendesak," ungkap Johnson.

[Gambas:Video CNN]

Menteri Luar Negeri Inggris, Dominic Raab mengatakan pangkalan militer Irak bukan hanya diisi oleh pasukan Amerika Serikat, tetapi juga ada pasukan Inggris. Kendati demikian, Raab memastikan tidak ada tentara Inggris yang menjadi korban serangan rudal Iran pada Rabu (8/1) dini hari.

Johnson membela sikap AS yang mengerahkan pesawat nirawak untuk menghabisi komandan Pasukan Quds, Mayjen Qasem Soleimani pada Jumat (3/1). Ia menuduh Soleimani memiliki kaitan dengan pemberontak Huthi di Yaman dan kelompok militan Libanon, Hizbullah serta mendukung Bashar al-Assad di Suriah.

Johnson juga menudin Soleimani memasok alat peledak kepada kelompok teroris untuk membahayakan tentara Inggris. "Pria itu [Soleimani] membawa darah pasukan Inggris di tangannya," ucapnya.

Kementerian Pertahanan Inggris mengungkapkan sekitar 1.400 personel militer dan sipil berbasis di Irak sebagai bagian dari koalisi 67 negara yang memerangi ISIS.

Iran pada Rabu (8/1) dini hari melakukan serangan balasan dengan mengirim sekitar 15 rudal ke dua pangkalan militer AS di Irak. Presiden Donald Trump sempat mengklaim jika tidak ada korban jiwa akibat serangan tersebut.

Namun Korps Pengawal Revolusi Iran (IRGC) mengklaim sekitar 80 tentara Amerika Serikat tewas dan 20 lainnya terluka dalam serangan tersebut. Dipastikan tidak ada korban dari pihak tentara Irak.

Stasiun televisi Iran menyebut serangan rudal ke pangkalan militer AS merupakan pembalasan atas serangan yang menewaskan Soleimani dan tiga tokoh lainnya. Jasad Soleimani dikenali dari cincin yang dikenakannya tak lama setelah serangan udara terjadi di Bandara Baghdad, Irak pada Jumat (3/1) pekan lalu. (AFP/evn)