Panglima AD Thailand Kunjungi Aceh, Belajar Tangani Konflik

CNN Indonesia | Rabu, 15/01/2020 05:33 WIB
Panglima AD Thailand Kunjungi Aceh, Belajar Tangani Konflik Panglima AD Thailand, Jenderal Apirat Kongsompong (kiri), berkunjung ke Aceh belajar penanganan konflik. (CNN Indonesia/Dani Randi)
Banda Aceh, CNN Indonesia -- Panglima Angkatan Darat Kerajaan Thailand (Royal Thailand Army/RTA), Jenderal Apirat Kongsompong, mengunjungi Kodam Iskandar Muda, Aceh, Selasa (14/1). Salah satu tujuannya adalah ingin mempelajari cara Indonesia menangani pemberontakan di Aceh.

"Kunjungan Panglima RTA membahas kesuksesan penanggulangan konflik di Aceh dan penandatanganan 4th Implementing Arrangement kelanjutan kerjasama TNI AD dengan Angkatan Darat Kerajaan Thailand periode 2020-2023," kata Kasad Jenderal TNI Andika Perkasa.


Kongsompong juga bertemu dengan Wali Nanggroe Aceh, Malik Mahmud Al Haytar, untuk berbagi informasi terkait bagaimana Aceh yang selama 30 tahun lebih dilanda konflik akhirnya bisa berdamai.


"Ini juga dalam rangka melihat apa yang diraih di Aceh, ia juga bertemu dengan Wali Nanggroe untuk sharing, mungkin ada yang berguna dan bisa diterapkan di Thailand," ujar Andika.

Kongsompong didampingi oleh Kepala Staf RTA Jenderal Teerawat Boonyawat, Komandan 4th Army Area RTA Letjen Pornsak Poolsawat, Komandan Pasukan Khusus RTA Letjen Phumipa Chansawang, Dirjen Direktorat Intelijen RTA Letjen Chairat Changkaew serta para pejabat RTA lainnya.

Pertemuan itu juga turut dihadiri oleh mantan petinggi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) seperti mantan panglima GAM Muzakkir Manaf, Roni Ahmad dan Suaidi Yahya.

Kongsompong mengatakan, pihaknya memutuskan berkunjung ke Aceh karena dianggap memiliki persamaan dengan daerah konflik di wilayah selatan Thailand.

[Gambas:Video CNN]

"Kita belajar dari pengalaman di Aceh bahwa Aceh adalah kota yang damai sekarang, setelah 30 tahun lebih berkonflik. Kini saya bisa lihat semuanya sangat tersimulasi, orang-orangnya semuanya tersenyum. Dan mereka saling memahami. Itu adalah kedamaian," kata Kongsompong.

Menurutnya, persamaan Aceh dengan wilayah yang berkonflik di Thailand terlihat dari budaya, kemudian kebebasan untuk beragama bahkan pemilu. Di Aceh, kata dia, meski di bawah naungan Pemerintah Indonesia, tapi Aceh memiliki kekhususan dan punya aturan sendiri.

Hal itulah, lanjut Kongsompong membuat pihaknya ingin belajar dari Aceh bagaimana untuk menangani konflik yang terjadi di wilayah selatan.

"Mereka (daerah yang konflik di Thailand) punya kebebasan untuk agama dan pemilu, mereka bisa pilih pemimpin mereka, karena mereka juga di bawah konstitusi sendiri. Seperti di Aceh di bawah Indonesia, tapi Aceh punya aturan sendiri," ucapnya.

Konflik di kawasan selatan Thailand, yang sebagian besar penduduknya adalah etnis Melayu yang memeluk Muslim sudah terjadi sejak 2004. Hingga saat ini tercatat pertikaian berdarah itu sudah menelan korban hingga 7000 nyawa.


Para pemberontak tersebut menginginkan otonomi bagi wilayah selatan Thailand yang secara budaya berbeda dengan penduduk mayoritas yang beragama Buddha. Mereka juga hampir setiap hari melakukan serangan bom dan penembakan di wilayah selatan Thailand, termasuk pembunuhan terhadap warga sipil beragama Buddha dan Islam yang dianggap pengkhianat atau mata-mata pemerintah. (dra/ayp)