Taliban Tawarkan AS Gencatan Senjata 10 Hari

CNN Indonesia | Jumat, 17/01/2020 20:20 WIB
Taliban Tawarkan AS Gencatan Senjata 10 Hari Taliban menawarkan gencatan senjata selama sepuluh hari kepada AS di Afghanistan. (KARIM JAAFAR / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kelompok Taliban dilaporkan menyodorkan perjanjian gencatan senjata sementara selama sepuluh hari kepada pasukan Amerika Serikat di Afghanistan. Akan tetapi belum diketahui apakah AS akan menerima tawaran tersebut dan kembali memulai proses perundingan damai.

Seperti dilansir Associated Press, Kamis (16/1), penawaran itu disebut ditawarkan kepada juru runding AS untuk Afghanistan, Zalmay Khalilzad, di Qatar. Taliban mempunyai kantor biro politik mereka di sana.


Akan tetapi, menurut sumber Taliban mereka selama ini menyimpan kecurigaan terkait negosiasi gencatan senjata, tanpa mengharuskan AS untuk menarik pasukan terlebih dulu. Mereka juga mengkhawatirkan jika kesepakatan gagal, maka akan sulit kembali mengerahkan milisi ke medan perang.


"Ada pemikiran di antara para pemimpin Taliban kami akan kesulitan kembali mengumpulkan pasukan jika peperangan terhenti," kata sumber tersebut.

Di samping itu, sejumlah milisi Taliban menyatakan enggan meletakkan senjata.

"Karena mereka berpikir justru dengan berperang akan memaksa AS untuk berunding," kata sumber tersebut.

AS menetapkan sejumlah syarat kepada Taliban dalam proses perundingan damai. Yakni menjamin ketertiban umum serta hak-hak kaum perempuan, menjamin kebebasan berpendapat, pengubahan undang-undang dasar, penempatan eks milisi Taliban dan kelompok bersenjata lainnya serta berjanji tidak akan menjadikan negara itu sebagai tempat persembunyian kelompok ekstremis.

[Gambas:Video CNN]

Sebagai gantinya, AS akan menarik sekitar 12 ribu pasukan mereka secara bertahap dan mengakhiri perang yang sudah berlangsung selama 18 tahun. Perang itu sampai saat ini merupakan yang terlama yang dilakoni AS.

Taliban menganggap petahana Ashraf Ghani dan pesaingnya, Abdullah Abdullah, sebagai boneka AS dan tidak mengakui pemerintahannya. Apalagi saat ini hasil penghitungan suara pemilihan presiden Afghanistan menunjukkan Ghani unggul, meski digugat oleh Abdullah.

Aroma kecurangan dalam pilpres Afghanistan kembali mencuat. Jika AS sudah lebih dulu menarik pasukan, ada kekhawatiran Afghanistan akan kembali jatuh ke dalam perang saudara antara para panglima perang dan Taliban.

Bom meledak lagi

Peristiwa ledakan bom kembali terjadi di Afghanistan hari ini. Sebanyak empat pegawai negeri meninggal akibat ledakan itu mengenai kendaraan yang mereka tumpangi.

Insiden itu terjadi di distrik Shar-e-Shafa, Provinsi Zabul. Ledakan itu diduga berasal dari bom atau ranjau yang disembunyikan di pinggir jalan.


Sampai saat ini belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab terhadap kejadian tersebut. (ayp/ayp)