Pedemo Gerebek Teater, Macron dan Istri Dievakuasi

CNN Indonesia | Minggu, 19/01/2020 00:18 WIB
Presiden Prancis Emmanuel Macron dievakuasi setelah pedemo anti-pemerintah memaksa masuk ke teater tempatnya menonton. Presiden Prancis Emmanuel Macron dan istrinya, Briggite, dievakuasi dari gedung teater akibat demonstrasi. (AFP PHOTO / Eric FEFERBERG)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Prancis Emmanuel Macron dievakuasi dari gedung teater setelah pedemo anti-pemerintah mencoba memaksa masuk. Polisi Prancis kembali menembakkan gas air mata dan menangkap beberapa aktivis 'rompi kuning'.

Dikutip dari AFP, Macron dan istrinya, Brigitte, mulanya tengah menonton pertunjukan "The Fly", di Bouffes du Nord, Paris, Jumat (17/1) malam. Sekitar 30 orang pedemo kemudian mendatangi teater itu dan mencoba masuk.

Menurut seorang staf kepresidenan, para pengunjuk rasa mengetahui keberadaan Macron setelah melihat kicauan salah satu penonton teater di Twitter. Polisi antihuru-hara kemudian keluar dan mencegah demonstran masuk.


"Semua bersama-sama, mogok massal," teriak para pemrotes saat bentrokan dengan polisi anti huru-hara yang berlangsung sekitar satu jam.

Sementara, Macron dan Brigitte diamankan selama beberapa menit, sebelum kemudian keduanya kembali ke kursi teater mereka untuk menyelesaikan menonton pertunjukan.

Pedemo 'rompi kuning' diserbu oleh gas air mata dari polisi.Pedemo 'rompi kuning' diserbu oleh gas air mata dari polisi. (AFPTV)
Macron, yang diketahui sesekali keluar untuk menikmati makan malam atau jalan-jalan di Paris, akhirnya meninggalkan teater dengan pengawalan polisi.

Pada Sabtu (18/1), para demonstran kembali meneriakkan beraksi menentang Macron. Mereka meneriakkan slogan-slogan kecaman terhadap polisi, Macron, dan program reformasi pensiunnya yang telah memicu pemogokan transportasi Prancis terlama dalam beberapa dekade.

"Jalanan adalah milik kita," seru beberapa pengunjuk rasa. "Macron, kami akan datang untukmu, ke rumahmu," ucap demonstran lainnya.

Demo ini merupakan aksi mingguan yang digelar setiap hari Sabtu oleh gerakan 'rompi kuning' sejak November 2018.

Polisi mengatakan 15 orang ditangkap setelah polisi mencoba membubarkan kerumunan di sentra unjuk rasa di Paris utara. Gas air mata pun dilontarkan di tengah hujan proyektil.

Aksi unjuk rasa itu terjadi pada hari ke-45 pemogokan yang melumpuhkan lalu lintas kereta api dan metro dan mengakibatkan jutaan penumpang di Paris telantar.

[Gambas:Video CNN]
Reformasi Macron bertujuan untuk menyatukan sistem pensiun dari yang sebelumnya 42 sistem terpisah.

Berbagai sistem yang ada saat ini menawarkan pensiun dini dan manfaat lainnya bagi beberapa pekerja sektor publik, pengacara, ahli terapi fisik, dan bahkan karyawan Opera Paris.

Para kritikus mengatakan reformasi pensiun itu akan memaksa jutaan orang untuk bekerja lebih lama namun dengan pensiun yang lebih kecil.

Serikat pekerja telah bergabung dengan kelompok 'rompi kuning', yang menuduh Macron berkuasa atas nama elite perkotaan dan mengabaikan orang-orang di daerah.

Annie Moukam (58), seorang guru, mengatakan terlalu banyak orang di Prancis menderita.

"Kami tercekik oleh pemerintah yang ingin membuat kami berlutut," kata Moukam.

"Tidak mungkin dia (Macron) menyentuh pensiun kami. Kami telah bekerja sepanjang hidup kami untuk bisa pensiun dengan hormat," katanya.

(AFP/arh)