Australia 'Dihantui' Badai Debu dan Hujan Es Usai Karhutla

CNN Indonesia | Selasa, 21/01/2020 05:19 WIB
Australia 'Dihantui' Badai Debu dan Hujan Es Usai Karhutla Ilustrasi. Usai kebakaran hutan, Australia kini dihadapi hujan es dan petir yang membahayakan. (Foto: Satellite image ©2020 Maxar Technologies via AP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah kawasan di Australia kini tengah mengalami hujan es dan petir usai bencana kebakaran hutan. Sementara negara bagian New South Wales diselimuti badai debu dengan kecepatan 107 kilometer per jam.

Badai hujan es menghantam ibu kota Canberra pada Senin (20/1). Badai yang terjadi bahkan membuat pohon tumbang.

Layanan darurat memperingatkan warga untuk memindahkan kendaraan dari pohon dan jalur aliran listrik.


Badan Meteorologi memperingatkan warga di negara bagian New South Wales untuk bersiap menghadapi badai yang mulai bergerak dari arah timur ke tenggara.

"Petir yang menyambar kemungkinan memicu sejumlah kerusakan. Hujan lebat dan hujan es kemungkinan akan menyebabkan banjir bandang. Kami sudah mengirim peringatan selama beberapa jam ke depan," tulis Biro Meteorologi seperti dilansir AFP.

[Gambas:Video CNN]

Hujan es disertai petir juga terjadi di selatan kota Melbourne pada Minggu (19/1) malam. Pihak berwenang memperingatkan potensi bahaya baru yang muncul dengan turunnya hujan.

Perdana Menteri Victoria, Daniel Andrews mengatakan hujan yang turun berarti membuat kondisi jauh lebih berbahaya, terutama bagi mereka yang mengoperasikan alat berat untuk masuk ke daerah yang rusak akibat karhutla.

Ancaman tanah longsor akibat hujan deras juga bisa mempersulit upaya membuka jalan yang tertutup.

Perubahan cuaca ekstrem ini menelan korban luka-luka. Dua orang wisatawan yang mengunjungi Blue Mountains dilarikan ke rumah sakit setelah terkena sambaran petir ketika tengah bersandar di pagar logam.

"Mereka (korban) terkena sambaran petir yang bisa berakibat fatal. Keduanya masih mendapat perawatan dan kondisinya berangsur-angsur stabil," ujar manajer Ambulance New South Wales Greg Marshall dalam sebuah pernyataan.

Kebakaran hutan yang terjadi sejak September 2019 membuat kunjungan wisatawan ke Australia turun sebanyak 10 hingga 20 persen.

Hingga saat ini kebakaran hutan telah menghancurkan lebih dari 2.600 rumah, ratusan juta hewan mati terpanggang, dan sekitar 29 orang dilaporkan hilang. (AFP/evn)