Australia Diguyur Hujan, Asap Karhutla Mereda

CNN Indonesia | Kamis, 16/01/2020 10:42 WIB
Hujan akhirnya turun di seluruh Australia bagian timur termasuk negara bagian Victoria, Queensland, dan New South Wales pada Kamis (16/1). Hujan mengguyur Australia dan membuat asap karhutla menipis. (Foto: PETER PARKS / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Hujan akhirnya turun di seluruh Australia bagian timur termasuk negara bagian Victoria, Queensland, dan New South Wales pada Kamis (16/1). Hujan kali ini merupakan yang pertama kali sejak Australia dikepung kebakaran hutan sejak September 2019.

Hujan berintensitas ringan membantu memadamkan api di beberapa titik yang masih menyala. Bukan hanya itu, hujan juga membuat kualitas udara lebih baik.

Badan Meteorologi setempat mencatat hujan yang turun di Melbourne pada Rabu (15/1) bahkan disertai petir. Kondisi ini membuat asap menghilang dari langit kota Melbourne.


"Hujan petir telah meningkatkan kualitas udara di sebagian besar negara bagian," tulis Badan Perlindungan Lingkungan Victoria.

Mengutip AFP, hujan diperkirakan masih akan turun hingga akhir pekan. Dengan begitu krisis akibat kebakaran hutan bisa teratasi.

Dinas Pemadam Kebakaran mencatat sekitar 30 titik api terpantau masih ditemukan di New South Wales pada Kamis (16/1).

Kebakaran hutan yang melanda Australia telah menghancurkan lebih dari 2.000 rumah, 10 juta hektare lahan, dan 28 nyawa terenggut.

[Gambas:Video CNN]

Sejumlah peneliti dari universitas memperkirakan lebih dari satu miliar hewan termasuk mamalia, burung, dan reptil terbunuh karena kobaran api.

Kebakaran hutan yang kali ini memicu protes di berbagai kota di Australia pada Jumat (10/1) lalu. Pedemo meminta pemerintah mengambil tindakan untuk menangani perubahan iklim.


Para ilmuwan mengatakan bahwa perubahan iklim memicu kebakaran hutan menjadi mudah meluas lebih sering. Organisasi Independen yang mewakili ilmuwan Australia, Akademi Sains Australia menyatakan Canberra harus mengambil tindakan lebih tegas sebagai bagian dari komitmennya untuk meminimalisir pemanasan global.

"Ketika dunia menghangat akibat perubahan iklim yang disebabkan manusia, maka ada peningkatan frekuensi dan peristiwa cuaca ekstrem," papar Presiden Akademi John Shine dalam sebuah pernyataan.

Diketahui, Australia mengalami tahun terkering dan terpanas pada 2019 dengan rata-rata suhu 41,9 derajat Celcius. Sementara, kebakaran hutan yang terjadi sejak November 2019 lalu telah menghanguskan lebih dari 10 juta hektar lahan di enam negara bagian, 27 orang tewas, serta lebih dari 1.000 rumah dan bangunan hangus. (evn)