Seperti dilansir AFP, Rabu (22/1), pernyataan itu tercantum dalam dokumen rahasia yang diungkap oleh lembaga Arsip Keamanan Nasional di Universitas George Washington. Berkas tersebut memaparkan soal misi peretasan dengan julukan Operasi Simfoni Bercahaya oleh Komando Siber AS di bawah kendali Kementerian Pertahanan.
Lihat juga:ISIS Klaim Punya Pemimpin Pengganti Baghdadi |
"Komando Siber AS berhasil melawan propaganda ISIS dan membatasi upaya mereka di bidang daring untuk merekrut dan mencuci otak pengikutnya dengan cara memaksakan waktu biaya," demikian isi dalam dokumen tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
[Gambas:Video CNN]
"Operasi itu rumi sehingga menjadi tantangan dalam koordinasi dan menghindari pertentangan serta penilaian terhadap efektivitas," demikian isi laporan tersebut.
Dokumen tersebut memaparkan satuan tugas gabungan itu dibentuk pada 2016 saat masa pemerintahan Presiden Barack Obama. Operasi seharusnya berlangsung hanya sampai akhir 2016, tetapi pada Juli 2017 pemerintah AS meminta misi itu diperpanjang dan tidak diketahui sampai kapan operasi itu akan berakhir.
Lihat juga:PBB: Anak Militan ISIS Harus Direpatriasi |
Komandan Komando Siber AS, Jenderal Paul Nakasone, mengatakan juga sedang bekerja menghadapi ancaman serangan siber menjelang pemilihan presiden akhir tahun ini. Dia mengatakan sudah membentuk regu khusus untuk menangkal serangan siber. (ayp/ayp)