Usai Banjir dan Karhutla, Laba-laba Beracun Hantui Australia

CNN Indonesia | Kamis, 23/01/2020 11:16 WIB
Usai Banjir dan Karhutla, Laba-laba Beracun Hantui Australia Ilustrasi. Laba-laba berancun muncul di tengah kondisi basah, dingin, dan lembab di Australia. (Foto: ivabalk/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Australia kini dihadapkan pada 'teror' laba-laba beracun usai kebakaran hutan, banjir, dan badai debu yang terjadi belakangan. Kini warga diimbau mewaspadai kemunculan laba-laba funnel web yang beracun dan mematikan.

Australian Reptile Park mengatakan aktivitas laba-laba beracun ini meningkat dalam beberapa hari terakhir di negara bagian New South Wales.

"Karena beberapa hari terakhir turun hujan dan sekarang cuaca cenderung panas, kondisi ini membuat laba-laba funnel web mulai keluar ke permukaan," kata juru bicara Australian Reptile Park lewat video yang diunggah melalui laman resmi Facebook.


Rumsey mengingatkan gigitan laba-laba jenis ini berpotensi menjadi salah satu laba-laba paling berbahaya. Jika gigitannya mengenai manusia, maka perlu penanganan serius untuk mengeluarkan racun yang cepat menyebar dari tubuh.

Hewan yang memiliki nama latin Atracid Australia yang muncul ini berasal dari hutan lembab di kawasan timur Australia. Beberapa spesies laba-laba funnel web dikenal sangat beracun dan bisa menyebar dengan cepat hingga mematikan korban.

[Gambas:Video CNN]

Warren Baily, pemilik pengendali serangga ABC Pest Control Sydney mengatakan laba-laba jenis ini biasanya aktif saat musim panas. Kemunculannya tahun ini relatif lebih lambat karena faktor cuaca yang sangat kering akibat kebakaran hutan dalam beberapa bulan terakhir.

"Mereka [laba-laba] sangat beracun dan bisa membunuh orang. Mereka keluar karena cuaca berubah dengan turunnya hujan beberapa hari terakhir. Laba-laba ini bisa menghampiri rumah, permukaan tanah, hingga atap," ujar Baily seperti dilansir CNN.

Selain beracun, pejantan dari spesies ini juga dikenal agresif dan kerap hidup di habitat manusia.

Januari dan Februari menjadi waktu saat laba-laba jenis ini paling sering ditemukan. Hewan asli Australia ini menyukai tempat dengan kondisi yang agak basah, dingin, lembab, dan tertutup bayangan.

Sejak November 2019, Australia dihadapkan pada bencana kebakaran hutan terparah dan terbesar. Setidaknya 28 orang tewas, lebih dari 3.000 rumah dan bangunan rusak, dan sejumlah spesies hewan asli terancam punah lantaran pasokan makanan habis terbakar.

Tak sampai di situ, memasuki 2020 Australia diterpa badai debu dan hujan es batu hingga di sejumlah kawasan, termasuk ibu kota Canberra. Hujan yang turun disebut memicu permasalahan lain dan tak lantas memadamkan api. (CNN/evn)