AS Tuding Iran Masih Pasok Senjata bagi Houthi di Yaman

CNN Indonesia | Kamis, 20/02/2020 13:27 WIB
AS Tuding Iran Masih Pasok Senjata bagi Houthi di Yaman Ilustrasi pemberontak Houthi di Yaman. (AFP PHOTO / MOHAMMED HUWAIS)
Jakarta, CNN Indonesia -- Militer Amerika Serikat menyatakan Iran masih terus memasok persenjataan bagi kelompok pemberontak Houthi di Yaman meski sempat dua kali digagalkan dalam tiga bulan terakhir.

"Penyitaan ini konsisten dengan pola historis penyelundupan senjata canggih Iran ke Houthi di Yaman," kata Kapten Bill Urban dari Komando Pusat AS dalam pertemuan di Pentagon pada Rabu (19/2).

Komando Pusat AS merupakan unit militer Negeri Paman Sam yang bertanggung jawab atas operasi dan pasukannya di kawasan Timur Tengah.



Urban menuturkan pencegatan penyelundupan senjata ini terjadi di perairan Teluk dan melibatkan kapal-kapal dhow yang berlayar tanpa bendera. Pencegatan pertama berlangsung pada 25 November 2019, dan yang kedua terjadi pada 9 Februari 2020.

Urban memperlihatkan serangkaian foto-foto sejumlah kargo berisikan senjata yang disita tentara AS. Ia mengklaim senjata-senjata itu berasal dari Iran dan ditujukan untuk Houthi.

[Gambas:Video CNN]

Dalam penyitaan terakhir pada Februari lalu, kapal militer AS, USS Normandy, menemukan rudal-rudal anti-tank Dhelavieh yang dibuat Iran menirukan teknologi Rusia. AS juga menyita tiga rudal darat yang dirancang dan diproduksi "358" Iran.

Sementara itu, senjata-senjata yang disita pada November lalu meliputi beberapa jenis rudal dan suku cadang rudal jelajah.

Selain menyita senjata, militer AS juga turut menahan beberapa awak kapal yang mengangkut senjata-senjata itu. Awak kapal yang ditangkap pada 9 Februari lalu diketahui merupakan warga Yaman.


"Amerika Serikat menilai dengan keyakinan tinggi bahwa senjata-senjata itu diselundupkan secara ilegal ke Houthi di Yaman dan ini bertentangan dengan beberapa resolusi Dewan Keamanan PBB," kata Urban seperti dilansir dari AFP.

Selama ini, Iran dilaporkan mendukung pemberontak Houthi yang tengah berperang dengan pemerintah Yaman sejak 2015 lalu. Selain Iran, Saudi pun turun tangan dalam perang sipil di Yaman itu untuk mendukung pemerintahan Presiden Abdu Rabu Mansur Hadi.

Konflik ini pun disebut-sebut sebagai perang pion antara Saudi dan Iran di Timur Tengah karena sejumlah pihak menuding Teheran menyokong pergerakan Houthi.


Di sisi lain, perang itu membuat puluhan ribu rakyat Yaman meninggal akibat perang, kelaparan dan terjangkit wabah kolera sampai hari ini.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahkan menganggap konflik yang telah berjalan selama empat tahun ini sebagai krisis kemanusiaan terburuk sepanjang sejarah. (rds/dea)