Polisi India Kawal Salat Jumat Usai Rusuh Umat Hindu-Muslim

CNN Indonesia | Senin, 02/03/2020 10:38 WIB
Umat Muslim di Ibu Kota New Delhi menggelar pelaksanaan salat Jumat di bawah pengawasan polisi anti-huru hara India pada pekan lalu. Ilustrasi. Umat Muslim India melaksanakan salat Jumat di bawah pengawasan polisi anti huru-hara. (Foto: AP Photo/Vincent Thian)
Jakarta, CNN Indonesia -- Umat Muslim di Ibu Kota New Delhi menggelar pelaksanaan salat Jumat di bawah pengawasan polisi anti-huru hara India pada pekan lalu.

Pengawasan dilakukan seminggu setelah kerusuhan antara umat Muslim dan Hindu di timur New Delhi yang menewaskan 42 orang dan melukai puluhan lainnya.

Puluhan masjid di timur New Delhi dilaporkan tetap menggelar salat Jumat dan khotbah perdana pasca-kerusuhan yang berlangsung selama empat hari itu terjadi.


Kepolisian terlihat berpatroli di jalanan timur ibu kota yang masih berserakan pecahan kaca dan puing bekas kerusuhan.

Selain aparat kepolisian, belasan relawan juga turut membantu menjaga gelaran salat Jumat dengan berdiri di sebuah masjid utama di Mustafabad.

"Ini adalah masa pengujian. Kita harus bersabar," ucap ketua imam masjid tersebut dalam khotbah seperti dikutip AFP pada Senin (2/3).

[Gambas:Video CNN]

Sang imam juga mengimbau para jemaah untuk tenang, Para jemaah diminta untuk membubarkan diri segera setelah salat selesai.

Meski kerusuhan telah berakhir, ketakutan dan ketegangan masih terasa di timur New Delhi. Polisi bahkan melarang jemaah Muslim untuk beribadah di salah satu masjid yang dibakar oleh oknum umat Hindu saat bentrokan berlangsung.

Tidak jauh dari Mustafabad, sekelompok penduduk di daerah Shiv Vihar yang didominasi umat Hindu memblokir sejumlah jalan menuju salah satu masjid dengan kerangka sepeda motor yang terbakar.

"Tidak ada yang akan diizinkan masuk sampai para perusuh ditangkap. Kami tidang ingin ada kekerasan," teriak kerumunan tersebut.

Bentrokan antara umat Muslim dan Hindu ini bermula dari demonstrasi kecil menentang Undang-Undang Kewarganegaraan sekitar awal pekan lalu. UU kontroversial itu mengizinkan India memberi status kewarganegaraan terhadap imigran yang menerima persekusi di negara asalnya seperti Bangladesh, Pakistan, dan Afghanistan.

Namun, UU itu hanya berlaku bagi imigran pemeluk agama Hindu, Kristen, dan agama minoritas lainnya selain Muslim. 

Unjuk rasa itu meluas dan menjadi rusuh setelah umat Hindu dan umat Muslim saling melempar batu. Bahkan, beberapa orang yang terlibat dalam kerusuhan dilaporkan membawa pedang dan senjata lainnya. (rds/evn)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK