Deretan Negara Terapkan Jam Malam untuk Tekan Pandemi Corona

CNN Indonesia | Selasa, 24/03/2020 14:57 WIB
Deretan Negara Terapkan Jam Malam untuk Tekan Pandemi Corona Sejumlah negara memberlakukan jam malam sebagai peng. (Hector RETAMAL / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menyusul jumlah kasus virus corona (Covid-19) yang telah menembus 380 ribu, beberapa negara di dunia mulai memberlakukan kebijakan lebih keras. Bahkan beberapa ada yang sampai menerapkan jam malam guna membatasi pergerakan penduduk untuk menekan penyebaran virus.

Mulai dari negara-negara di Asia, Eropa, hingga Amerika memutuskan untuk melarang warga sipil berkeliaran di malam hingga pagi sekitar 12 jam untuk mengurangi aktivitas warganya.

Jam malam lazimnya diterapkan ketika sebuah wilayah atau negara berada dalam kondisi krisis, darurat, bahaya, terancam, atau peperangan dan konflik.


Kerajaan Arab Saudi termasuk salah satu yang baru memberlakukan jam malam di seluruh negeri. Kebijakan mulai diterapkan sejak Senin (23/3) kemarin, untuk meredam penyebaran virus corona.


Aturan tersebut berlaku mulai pukul 19.00 hingga 06.00 pagi waktu setempat selama 21 hari ke depan. Seluruh penduduk diperintahkan untuk berada di dalam rumah saat jam malam berlangsung, kecuali jika ada urusan mendesak. Aturan jam malam juga tidak berlaku bagi seluruh personel militer, awak media, serta seluruh petugas kesehatan dan publik.

Selain Saudi, negara Timur Tengah yang baru-baru ini menerapkan kebijakan jam malam guna mencegah penularan virus corona yakni Libya, Aljazair, Kuwait, Pakistan, Sudan, Yordania, dan Tunisia.

Namun, durasi jam malam yang diberlakukan di tiap negara berbeda-beda. Rata-rata menerapkan larangan keluar pada jam malam selama delapan hingga 12 jam. Waktu dimulainya juga berbeda di tiap negara.

Kuwait memberlakukan aturan jam malam sejak pukul 17.00 hingga 04.00 waktu setempat. Sedangkan, Sudan baru menerapkan kebijakan jam malam mulai pukul 20.00 hingga 06.00.


Sementara itu, Turki sejauh ini baru memberlakukan larangan keluar rumah bagi penduduknya yang berusia di atas 65 tahun dan yang memiliki penyakit kronis. Mereka juga dilarang menggunakan transportasi umum.

Di samping negara-negara Eropa yang sudah lebih dulu menerapkan pembatasan akses total (lockdown), Prancis dan Paraguay baru memberlakukan aturan jam malam di negaranya.

Prancis memutuskan untuk menerapkan jam malam di beberapa wilayah, dan memperketat aturan jam malam di beberapa kota seperti Nice dan Montpellier. Paraguay pun menerapkan kebijakan serupa di seluruh negeri yang dimulai pukul 20.00 hingga 04.00.

Di Asia, Sri Lanka memperpanjang masa berlaku kebijakan jam malam hingga pekan ini guna mencegah penyebaran virus corona semakin meluas.
Deretan Negara Terapkan Jam Malam Tekan Pandemi Corona(CNN Indonesia/Fajrian)
Beberapa wilayah di India juga memberlakukan aturan jam malam selama 14 hari mulai pekan lalu. Jam malam diterapkan mulai pukul 21.00 hingga 07.00 waktu setempat.

Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, juga memberlakukan aturan jam malam dalam masa lockdown.

Di wilayah Amerika Latin, Chili dan Ekuador menjadi negara paling baru yang menerapkan aturan jam malam. Aturan jam malam di Chili berlaku mulai pukul 22.00 hingga 05.00 waktu setempat.

Selain itu, beberapa negara di kawasan Afrika Barat juga menerapkan jam malam di seluruh negeri mulai pekan ini.

Aparat bersenjata pun diterjunkan untuk mengawal pemberlakuan kebijakan ini. Tak sedikit pula yang menghukum pelanggar peraturan dengan denda hingga hukuman penjara.

Melansir Aljazeera, Wakil Perdana Menteri Kuwait, Anas al-Saleh menekankan, barangsiapa melanggar aturan jam malam akan dijatuhi hukuman hingga tiga tahun penjara atau dikenakan denda mencapai 10 ribu dinar (sekitar Rp526 juta).

AFP melaporkan, di Yordania setidaknya 880 orang ditangkap karena melanggar aturan jam malam. Sementara itu, kepolisian di Tunisia menangkap lebih dari 400 orang karena keluar di saat jam malam berlangsung. Sebanyak dua ribu orang di Sri Lanka bahkan ditangkap karena melanggar aturan jam malam di negara tersebut.

[Gambas:Video CNN]

Bersamaan dengan itu, beberapa negara juga menutup supermarket, pertokoan, restoran, kafe, sekolah dan universitas, serta menunda kegiatan-kegiatan publik seperti acara olahraga dan kebudayaan. (ang/ayp)