Prancis Evakuasi Pasien Corona untuk Tambah Ruang ICU

CNN Indonesia | Selasa, 31/03/2020 01:18 WIB
Prancis mengevakuasi pasien virus corona dari rumah sakit di bagian timur untuk memperbanyak ruang perawatan intensif. Prancis mengevakuasi pasien virus corona dari rumah sakit di bagian timur untuk memperbanyak ruang perawatan intensif. (AP/Jean-Francois Badias)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Prancis dilaporkan mengevakuasi pasien virus corona (Covid-19) dari sejumlah rumah sakit di bagian timur negara yang terdampak cukup parah, untuk dan memperbanyak ruang perawatan intensif (ICU) di wilayah tersebut.

Sebanyak 36 pasien dari wilayah Mulhouse dan Nancy dievakuasi menggunakan dua kereta cepat pada Minggu (29/3) malam. Mereka akan dipindahkan ke sejumlah rumah sakit di pantai barat Prancis, yang tidak terlalu terdampak wabah.

"Perang ini mungkin akan dimenangkan atas dasar tempat perawatan intensif, dan kemampuan kita untuk menggunakan semua sumber daya perawatan intensif secara strategis di tingkat nasional," kata direktur rumah sakit regional di Metz, Marie-Odile Saillard, seperti dikutip dari AFP, Senin (30/3).


Proses evakuasi yang memakan waktu berjam-jam itu dilakukan oleh puluhan petugas rumah sakit yang diawasi oleh polisi dan tentara. Mereka menempatkan semua pasien ke dalam gerbong kereta, di mana masing-masing gerbong berisi empat pasien.


"Kami harus membereskan tempat tidur, ini sangat penting .... Kami masih melihat peningkatan jumlah pasien," kata kepala layanan darurat di rumah sakit regional di Metz, Francois Brun.

Perdana Menteri, Edouard Philippe, juga memperingatkan situasi krisis yang akan memburuk selama dua minggu ke depan. "Pertempuran baru saja dimulai," kata dia.

Proses evakuasi juga dilakukan di Strasbourg, timur laut Prancis. Pemerintah Jerman mengirimkan pesawat militer untuk mengevakuasi dan memindahkan dua pasien ke wilayah Ulm, Jerman.

Menteri Hubungan Eropa, Amelie de Montchalin mengatakan, sekitar 80 warga Prancis kini menjalani perawatan di negara tetangga Jerman, Swiss, dan Luksemburg.

Sementara itu, lebih dari 4.600 pasien virus corona berada dalam perawatan intensif di Prancis. Sebagian besar memiliki masalah pernapasan dan membutuhkan ventilator. Para pejabat kesehatan pun mengkhawatirkan persediaan ventilator yang akan semakin menipis dalam waktu dekat.

Philippe menjanjikan pemerintah tengah menyegerakan persediaan 14.000 tempat tidur untuk perawatan intensif.

[Gambas:Video CNN]

Kementerian Dalam Negeri Prancis juga mengumumkan akan menyediakan lima ribu tempat tidur di hotel untuk menampung tunawisma selama krisis berlangsung.

Selain itu, pemerintah Prancis juga dilaporkan telah memesan miliaran masker medis. Sebanyak 5,5 juta masker yang didatangkan dari China tiba di Paris hari Minggu (29/3) kemarin, bersamaan dengan sekitar 100 ton peralatan medis.

"Boeing 777 Cargo pertama kami baru saja mendarat di #ParisCDG dengan hampir 100 ton peralatan medis di dalamnya, termasuk lebih dari 5 juta masker," berikut keterangan maskapai penerbangan Air France di Twitter.

Kendati demikian, pemerintah mengungkapkan kebutuhan masker medis untuk para petugas mencapai 40 juta setiap pekannya. Mereka kemudian mengingatkan potensi keterlambatan kebutuhan medis, karena tingginya permintaan global peralatan pelindung untuk petugas medis.

Layanan kesehatan nasional Prancis melaporkan 292 kematian akibat virus corona dalam 24 jam terakhir. Namun, jumlah tersebut hanya mencakup pasien yang dirawat di rumah sakit saja.
(CNN Indonesia/Fajrian)
Dengan demikian, total korban meninggal di Prancis hingga Minggu kemarin mencapai 2.606 jiwa.

Sementara itu, Kepala Badan Kesehatan Nasional Prancis, Jerome Salomon, mengatakan ada 359 orang yang masuk dalam perawatan intensif pada Minggu kemarin. Menurutnya angka tersebut perlu terus dipantau untuk mengetahui tingkat epidemi.

Hingga kini, jumlah pasien infeksi virus corona di Prancis mencapai 40.723 orang. Para pejabat khawatir virus corona akan menyebar dengan cepat di sekitar 7.000 panti jompo untuk pensiunan negara itu, mengingat puluhan kematian yang telah diumumkan oleh beberapa panti.

Selain mempersiapkan sistem perawatan, Prancis juga memberlakukan lockdown sejak 17 Maret lalu guna meredam penyebaran virus corona. Kebijakan tersebut berlaku hingga 15 April mendatang. (ang/ayp)