Ribuan Ventilator untuk Pasien Covid-19 di AS Tak Berfungsi

CNN Indonesia | Kamis, 02/04/2020 21:06 WIB
Ribuan persediaan ventilator yang disiapkan untuk menangani pasien Covid-19 di Amerika Serikat dilaporkan tak berfungsi. Ilustrasi. Ribuan ventilator yang disiapkan pemerintah AS untuk pasien Covid-19 diketahui tak berfungsi. (Foto: Istock/sturti)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan pemerintah federal memiliki 10 ribu unit ventilator yang siap didistribusikan dan ribuan unit persediaan tambahan untuk penanganan pasien terinfeksi virus corona.

Namun, beberapa pejabat negara mengatakan sejumlah ventilator yang disimpan rusak dan persediaannya sudah hampir habis.

Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan (HHS) kemudian berspekulasi bahwa pemerintah pusat tidak melakukan tugasnya untuk memantau jumlah persediaan.


Faktanya, The New York Times melaporkan pada Kamis (2/4), sebanyak 2.109 ventilator memang tidak tersedia dan baru siap dipasok ulang mulai 30 April mendatang. Kosongnya persediaan disebabkan karena tak ada perpanjangan kontrak antara pemerintah dan pihak pemelihara alat kesehatan sejak 2019 lalu.

Pemerintah baru menandatangani perjanjian baru dengan Agiliti, sebagai pemelihara sekaligus pemasok untuk alat kesehatan pada akhir Januari lalu. Mereka juga terlambat melakukan pembayaran kontrak sebesar US$38 juta (sekitar Rp635,7 miliar).

Dengan demikian, proses pemeliharaan ventilator semakin tertunda. Kesalahan tersebut berpotensi mematikan karena ketika itu penyebaran virus corona kian meluas.

Para ahli juga memperingatkan, alat bantu pernapasan seperti ventilator tidak dapat disimpan terlalu lama tanpa adanya pemeliharaan.

[Gambas:Video CNN]

Tak heran, jika rumah sakit pusat di AS harus berjuang untuk merakit setiap ventilator yang mereka temukan. Beberapa kehabisan daya baterai, beberapa lainnya bahkan tak dilengkapi dengan selang oksigen.

Baru-baru ini negara bagian California menemukan bahwa 170 ventilatornya rusak, setelah HHS mengklaim seluruh ventilator dari pemerintah federal siap digunakan.

"Saya tidak tahu siapa yang bertanggung jawab atau apakah ada yang bertanggung jawab atas alat kesehatan itu. Tapi itu bukan kami," kata kepala eksekutif Agiliti, Tom Leonard, seperti dikutip The New York Times pada Kamis (2/4).

Ribuan Ventilator untuk Pasien Covid-19 di AS Tak BerfungsiFoto: CNN Indonesia/Fajrian
Agensi Federal Manajemen Darurat (FEMA) telah mengirimkan 26 juta masker bedah, 11,6 juta masker respirator, dan lebih dari lima juta pelindung wajah. Namun, pemerintah AS perlu lebih fokus pada penyediaan ventilator, karena adanya puluhan ribu permintaan dari sejumlah negara bagian.

Sejauh ini, pemerintah federal hanya memiliki 9.400 unit ventilator untuk persediaan. Sebagai tambahan, Departemen Pertahanan juga telah dikerahkan untuk membuat 1.065 ventilator.

Namun, baru tujuh ribu ventilator yang dikirim ke beberapa negara bagian. New York, sebagai wilayah yang paling terdampak, mendapat jatah empat ribu unit. Akibatnya, beberapa negara bagian yang membutuhkan harus kecewa karena belum mendapat jatah.

Gubernur Connecticut Ned Lamont pun mengeluhkan kondisi yang dihadapi wilayahnya. "Kami sangat kekurangan," kata dia.

Lamont mengklaim, FEMA sempat menjanjikan pengiriman ventilator ke Connecticut. Namun, di saat-saat terakhir, pengiriman dibatalkan dan dipindahkan ke negara bagian yang dinilai terdampak lebih parah.

Pejabat Illinois juga mengungkapkan hal serupa. Mereka hanya mendapat 450 unit dari total permintaan empat ribu ventilator. Begitupun dengan New Jersey dan Meksiko, yang masing-masing hanya mendapat sekitar 300 unit.

Pejabat FEMA mengatakan, pengiriman ventilator akan diutamakan bagi pasien yang sekarat dan benar-benar membutuhkan ventilator untuk bernapas. Trump juga menyebut akan menyimpan sejumlah ventilator sebagai cadangan hingga ditemukan lagi titik penularan virus yang parah.

Para pemerintah negara bagian pun akhirnya mengupayakan peralatan medis seadanya untuk difungsikan sebagai ventilator.

Sejumlah rumah sakit mengubah mesin anastesi menjadi ventilaor. Beberapa pasien bahkan harus berbagi mesin yang sama dengan menggunakan selang berbeda, yang diklaim para ahli berisiko bagi kesehatan. (ang/evn)