Shenzhen, Kota Pertama di China Larang Konsumsi Anjing-Kucing

AFP, CNN Indonesia | Sabtu, 04/04/2020 15:51 WIB
Shenzhen menjadi kota pertama di China yang secara resmi memasukkan konsumsi daging anjing dan kucing sebagai perbuatan ilegal. Ilustrasi. Shenzhen membuat aturan yang melarang konsumsi daging anjing dan kucing. (Foto: CNN Indonesia/ Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kota Shenzhen di tenggara China menerapkan larangan bagi warga untuk mengonsumsi daging anjing dan kucing menyusul penyebaran pandemi virus corona (Covid-19). Pemerintah Shenzhen mengeluaran aturan pelarangan tersebut.

Pemerintah Shenzhen menuturkan aturan baru itu berlaku secara efektif mulai 1 Mei mendatang. Aturan itu diterapkan setelah pemerintah menetapkan bahwa mengkonsumsi daging binatang yang menjadi peliharaan adalah tindakan ilegal.

"Anjing dan kucing adalah binatang peliharaan yang sudah dianggap memiliki kedekatan dengan manusia dibandingkan dengan binatang lainnya. Melarang konsumsi daging anjing dan kucing merupakan praktik yang lumrah di negara maju seperti Hong Kong dan juga Taiwan," bunyi peraturan Pemerintah Shenzhen seperti dilansir Channel News Asia.


Dilansir CNN, Shenzhen menjadi kota pertama di China yang menerapkan larangan konsumsi daging anjing dan kucing. 

Pihak berwenang Shenzhen menuturkan setiap pelanggar aturan ini akan dikenakan sanksi berupa denda sebesar 30 kali lipat dari nilai hewan yang dikonsumsi.

Selama ini, kedua hewan itu menjadi santapan warga China yang meyakini bahwa daging anjing dan kucing memiliki manfaat bagi kesehatan.

[Gambas:Video CNN]

Setidaknya 10 juta anjing dan 4 juta kucing terbunuh setiap tahun di China akibat tradisi ini.

Selain daging anjing dan kucing, pemerintah China juga telah mengesahkan undang-undang yang melarang konsumsi daging binatang luar pada Februari lalu.
Shenzhen, Kota Pertama di China Larang Konsumsi Anjing-KucingFoto: CNN Indonesia/Fajrian

Undang-undang itu disahkan menyusul penyebaran virus corona di Negeri Tirai Bambu yang hingga kini telah menyebar dan menular ke 1.015.466 orang di dunia.

Virus serupa SARS itu diyakini pertama kali muncul dan menyebar di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, sekitar akhir 2019 lalu, tepatnya dari sebuah pasar yang menjual hewan-hewan liar. Virus corona diduga ditularkan dari ular dan kelelawar.

Sejak itu, pihak berwenang China mengakui bahwa mereka perlu mengendalikan industri perdagangan dan kebiasaan mengkonsumsi hewan liar demi mencegah risiko kemunculan wabah lain.

Meski begitu, sejumlah ahli menganggap memutus rantai perdagangan hewan liar di China sangat sulit sebab mengkonsumsi daging-daging tersebut sebagai makanan hingga obat-obatan telah menjadi tradisi lama rakyat Tiongkok. (rds/evn)