Dilema PSK Thailand antara Bertahan Hidup dan Wabah Corona

AFP, CNN Indonesia | Senin, 06/04/2020 07:07 WIB
Dilema PSK Thailand antara Bertahan Hidup dan Wabah Corona Ilustrasi. Para pekerja seks komersial di Thailand terpaksa turun ke jalan mencari sisa pelanggan kala jam malam karena wabah corona, demi bertahan hidup.(Istockphoto/ Motortion)
Jakarta, CNN Indonesia -- Penutupan berbagai tempat hiburan dan pembatasan aktivitas telah mematikan kegiatan pesta di Thailand serta memaksa para penjaja wisata birahi seperti Pim cabut dari bar dan mencari nafkah di jalan-jalan yang sunyi.

Pim takut, namun ia lebih khawatir tak memiliki uang untuk membayar kontrakan tempat tinggalnya.

Kawasan prostitusi dari Bangkok ke Pattaya kini sepi setelah berbagai klub malam dan panti pijat tutup serta para wisatawan dilarang masuk ke negara tersebut.


Kebijakan itu membuat sekitar 300 ribu pekerja seks komersial kehilangan pendapatan mereka, dan memaksa mereka untuk turun ke jalan di tengah risiko terpapar virus corona Covid-19 yang mewabah.

"Saya takut soal virus itu, namun saya butuh mencari pelanggan sehingga saya bisa membayar kontrakan dan membeli makanan," kata pekerja seks komersial transgender berusia 2 tahun itu di sebuah area di Bangkok yang semula penuh kelap-kelip lampu bar namun kini gelap.


Sejak Jumat (3/3), penduduk Thailand diberlakukan jam malam mulai pukul 10 hingga 4 pagi. Bar-bar dan restoran telah tutup beberapa hari sebelumnya.

Banyak pekerja seks komersial Bangkok juga memiliki pekerjaan di bar-bar. Mereka bekerja untuk mendapatkan tip sembari menjaring pelanggan untuk dibawa ke kamar.

Ketika tempat kerja mereka mendadak tutup, sebagian besar dari mereka kembali ke tempat asalnya dan hanya bisa menunggu krisis mereda.

Sedangkan yang lain, seperti Pim, mereka turun ke jalan mencari sisa-sisa pelanggan di kegelapan malam.

Pemerintah Thailand mengatakan siap memberlakukan jam malam hingga 24 jam bila dibutuhkan untuk mengendalikan wabah tersebut, yang hingga saat ini telah menginfeksi lebih dari 2.000 orang dan membunuh 20 pasien di negara tersebut.

Dilema PSK Thailand antara Bertahan Hidup dan Wabah CoronaIlustrasi. Para pekerja seks komersial di Thailand terpaksa turun ke jalan mencari sisa pelanggan kala jam malam karena wabah corona, demi bertahan hidup. (Istockphoto/ Motortion)

Pim dan teman-temannya mesti menanggung berat keputusan tersebut. Ia sudah tak mendapatkan pelanggan selama 10 hari sementara tagihan tak berhenti datang.

Teman Pim, Alice yang juga seorang pekerja seks transgender, juga terpaksa pindah dari bar-bar dan turun kejalan.

"Saya dulu menghasilkan uang yang cukup, sekitar US$300-600 per pekan," kata Alice.

"Namun ketika bisnisnya tutup, pendapatan saya berhenti juga. Kami melakukan ini karena kami miskin. Bila kami tak bisa membayar hotel kami, mereka akan menendang kami keluar," lanjutnya.

Lebih Takut Tak Makan

Sesekali, turis masih muncul di sekitar kawasan merah, sebelum negosiasi harga jasa diam-diam terjadi dan menyelinap cepat ke hotel terdekat. Pemandangan itu tinggal sedikit di kawasan turis utama Bangkok.


Sementara itu, risiko tinggi para pekerja seks komersial ini semakin meroket kala wabah menyebar.

Para pekerja seks tersebut bakal terkunci di rumah mereka di seluruh penjuru negeri dalam beberapa pekan sebelum geliat ekonomi malam Thailand kembali hidup.

Ada ketakutan atas situasi itu berlangsung hingga beberapa bulan, yang mampu merenggut miliaran dolar para turis dari ekonomi Thailand dan menyisakan mereka yang bekerja di sektor informal hidup melarat.

Mereka itu termasuk pekerja seks komersial, ilegal namun diterima secara luas sebagai bagian dari kehidupan malam Thailand.

Ada kekhawatiran bahwa skema darurat Pemerintah Thailand untuk memberikan US$150 atau 5.000 baht hingga jutaan baht ke pengangguran baru selama tiga bulan ke depan, tak merangkul para pekerja seks komersial karena tidak dapat membuktikan diri sebagai pekerjaan resmi.

[Gambas:Video CNN]

Grup advokasi untuk pekerja seks komersial Thailand, The Empower Foundation mengatakan dunia hiburan bisa menghasilkan US$6,4 miliar per tahun, yang banyak di antaranya adalah menjaja seks dalam sejumlah bentuk.

Kelompok itu menyebut para perempuan menjadi pihak yang paling dirugikan dalam pandemi ini. Banyak ibu dan tulang punggung keluarga mereka terpaksa menjadi pekerja seks komersial karena tidak adanya kesempatan atau upah lulusan rendah.

Grup itu telah menulis surat terbuka kepada pemerintah dan mendesak mereka untuk "menemukan cara menyediakan pendampingan kepada seluruh pekerja seks yang kehilangan pendapatan mereka".

Kala jam malam pukul 10 sudah datang, Pim dan Alice bersiap untuk patroli terakhir demi menjaring pelanggan.

"Saya pikir pemerintah amatlah lamban. Mereka tidak peduli terhadap rakyat seperti kami yang bekerja di industri seks," kata Alice. "Kami lebih takut tak memiliki apa pun untuk dimakan dibanding virus." (end)