RI dan China Waspada Pengidap Corona Tanpa Gejala

ara, CNN Indonesia | Selasa, 07/04/2020 15:52 WIB
RI dan China Waspada Pengidap Corona Tanpa Gejala Ilustrasi pemeriksaan cepat (rapid test) virus corona. (ANTARA FOTO/NOVRIAN ARBI)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah telah memperingatkan masyarakat terkait infeksi virus corona (Covid-19) tanpa gejala.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto, mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati dalam bepergian, karena pengidap virus corona (Covid-19) tanpa gejala tidak terdeteksi dan juga dapat menyebarkan virus.

"Siapapun yang terpaksa bepergian harus hati-hati, penderita positif Covid-19 tanpa gejala ini 60-70 persen," ujar dia dalam siaran langsung di BNPB, Senin (6/4) kemarin.


Penderita Covid-19 tanpa gejala ini, dikabarkan dapat menularkan virus lewat percikan droplet yang dikeluarkan saat bersin atau batuk. Percikan ini kemudian bisa mengenai orang lain sehingga menyebarkan virus ini.


Namun, ternyata pengidap virus corona tanpa gejala tak hanya menjadi ancaman untuk masyarakat di Indonesia. Virus corona tanpa gejala juga mulai dideteksi di China.

Pasien yang terinfeksi Covid-19 tanpa gejala menjadi perhatian utama pemerintah China dalam beberapa pekan terakhir.

Dilansir dari Gulfnews, Komisi Kesehatan China telah melaporkan lonjakan jumlah kasus virus corona asimptomatik (tanpa gejala) sebanyak 78 kasus pada hari Minggu (5/4).

Dari kasus-kasus virus baru itu, 38 di antaranya adalah orang yang datang dari luar negeri. Wilayah yang mengalami kasus tanpa gejala tersebar di Provinsi Guangdong, yakni Guangzhou, Shenzen dan Jieyang.

Pemerintah Provinsi Guangdong menyebutkan bahwa kasus infeksi tanpa gejala tersebut berpusat di selatan Guangdong, berasal dari seseorang yang telah melakukan perjalanan dari provinsi Hubei yang menjadi sumber penyebaran virus corona.


Akhirnya, Komisi kesehatan Guangdong memutuskan untuk menaikkan tingkat risiko di empat distrik di kota Guangzhou, Shenzhen dan Jieyang dari rendah hingga sedang sejak Minggu (5/7) pekan lalu.

Sementara itu, Ahli Epidemiologi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Maria Van Kerkhove, mengatakan akan sangat sulit dalam mengidentifikasi dan melacak pasien tanpa gejala tanpa data yang akurat.

Pada konferensi pers di Jenewa, Swiss, Maria mendesak negara-negara untuk memisahkan data antara kasus-kasus pasien yang benar-benar tanpa gejala dengan pasien yang pra-gejala (pada awalnya tidak memiliki gejala dan kemudian menunjukkan gejala virus).

Dengan data tersebut, diharapkan pemerintah masing-masing negara dapat lebih mendeteksi wilayah penyebaran virus tanpa gejala.

"Pasien Covid-19 tanpa gejala dapat menularkan virus kepada orang lain, namun tetapi tidak memiliki gejala penyakit. Mengidentifikasi dan mengisolasi pasien seperti itu sangat penting untuk menghentikan penyebaran penyakit," ucap Maria, dilansir dari Voice of America.
(CNN Indonesia/Fajrian)
Berdasarkan situs Worldometers pada Selasa (7/4), China kini telah melaporkan sebanyak 81.740 kasus Covid-19, dengan 3.331 kematian. Namun, jumlah infeksi harian di China telah turun secara drastis dari puncak epidemi pada Februari.

China juga telah menutup perbatasannya ketika virus menyebar secara global, meskipun sebagian besar kasus melibatkan warga negara Cina yang kembali dari luar negeri. Pemerintah pusat juga mendorong otoritas lokal untuk mengidentifikasi dan mengisolasi pasien tanpa gejala. (ayp)

[Gambas:Video CNN]