Sama dengan Trump, Iran Juga Ragukan Data Corona China

CNN Indonesia | Rabu, 08/04/2020 12:29 WIB
Sama dengan Trump, Iran Juga Ragukan Data Corona China Ilustrasi virus corona di China. (Hector RETAMAL / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pejabat Kesehatan Iran meragukan keakuratan data virus corona di China karena angkanya terlalu kecil. Keraguan serupa sebelumnya juga diutarakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

"Setelah virus itu menyebar, menjadi jelas bukan seperti yang dilaporkan China," kata pejabat kesehatan Iran yang juga anggota gugus tugas Covid-19 Minoo Mohraz, Selasa (7/4).

Menurut dia, China juga mencabut sejumlah artikel yang memuat data tentang virus corona. Selain itu, Mohraz pun meragukan kebenaran studi yang dibuat China.



"Dengan apa yang kita ketahui tentang studi ilmiah mereka, angka-angka mereka tidak dapat dipercaya," kata Mohraz dilansir kantor berita IRNA seperti dikutip dari AFP.

Pejabat satuan tugas lainnya mengatakan angka-angka yang dirilis China jauh dari kebenaran bila melihat penyebaran Covid-19 dan kematian tinggi di seluruh dunia.

Ahli epidemiologi Hamid Souri menilai data yang terdistorsi bisa menyebabkan pengambilan keputusan terdistorsi.

Tak hanya mereka, Juru Bicara Kementerian Kesehatan Iran Kianoush Jahanpour turut meragukan akurasi data China.
Sama dengan Trump, Iran Juga Ragukan Data Corona ChinaFoto: CNN Indonesia/Fajrian

Bahkan Jahanpour mendapat kecaman usai menyebut laporan China tentang angka Covid-19 merupakan lelucon pahit.

Dia mendapat serangan dari Duta Besar China untuk Teheran, Chang Hua lewat Twitter pada hari Minggu lalu. Chang meminta Jahanpour menghormati upaya China dalam memerangi virus corona. "Menghormati kenyataan dan upaya besar rakyat China," kata Chang.

Ketika itu Jahanpour tidak memberikan perlawanan. Dia kemudian membalas tweet dengan mengatakan bahwa dukungan China terhadap Iran di masa-masa sulit ini tak terlupakan.


Iran dan China selama ini menjalin hubungan yang harmonis. Beijing merupakan salah satu mitra dagang utama Teheran, terutama dalam penjualan minyak.

Pekan lalu Presiden AS Donald Trump meragukan keakuratan data virus corona yang dikeluarkan China setelah anggota Kongres AS menyebutkan beberapa laporan intelijen yang menunjukkan indikasi Negeri Tirai Bambu menutupi data.


Partai Republik di Kongres AS sempat menunjukkan sebuah laporan dari Bloomberg yang mengutip dari sumber intelijen AS, menyatakan bahwa China tidak sepenuhnya jujur mengenai laporan jumlah infeksi dan kematian akibat virus corona.

Namun China membantah tuduhan menutupi data korban virus corona itu (dea/dea)

[Gambas:Video CNN]