Sikap Trump dan Lonjakan Virus Corona di AS

CNN Indonesia | Rabu, 08/04/2020 17:35 WIB
Cara pemerintah dan sikap penduduk AS menghadapi wabah virus corona berdampak terhadap lonjakan kasus. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. (SAUL LOEB / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Amerika Serikat saat ini menjadi negara dengan jumlah kasus dan angka kematian akibat virus corona (Covid-19) tertinggi di dunia.

AS menemukan kasus corona pertama sekitar 20 Januari lalu di negara bagian Washington. Hanya dalam waktu dua bulan lebih, kasus virus corona di Negeri Paman Sam meroket hingga mencapai 400.335 pasien dengan 12.841 kematian per hari ini, Rabu (8/4).

Ratusan ribu kasus corona itu tersebar di seluruh 50 negara bagian AS. New York masih menjadi negara bagian dengan kasus tertinggi di AS.


Sejumlah faktor menjadi penyebab jumlah kasus virus corona terus meningkat di Negeri Paman Sam.

Enam hari setelah kasus Covid-19 pertama ditemukan di AS, Presiden Donald Trump mengatakan virus corona hanya flu biasa.
Ia juga meminta warga AS untuk tetap tenang dan menganggap corona tak akan mempengaruhi orang Amerika.

"Ini adalah flu. Penyakit ini seperti flu. Sekarang, anda mengobati penyakit ini seperti flu. Ini hanya flu biasa yang perlu suntikan vaksin flu. Dan pada dasarnya kita kerap mendapat suntikan flu selama ini dengan cara yang cukup cepat," kata Trump dalam jumpa pers di Gedung Putih pada 26 Februari lalu seperti dilansir CNN.

Trump juga mengklaim bahwa ia sama sekali tidak khawatir melihat potensi corona menjadi sebuah pandemi pada Februari lalu.

"Tidak (khawatir) sama sekali. Ini akan baik-baik saja, semuanya dalam kendali," kata Trump kepada CNBC.

Sikap Trump dan kabinetnya tidak berubah setelah menerima pemaparan studi sekelompok ahli epidemiologi Imperial College London tentang proyeksi penyebaran virus corona di AS.

Dalam studi tersebut, para ahli penyakit menular itu memprediksi Covid-19 bisa membunuh 2,2 juta warga AS dalam beberapa bulan ke depan jika pemerintah tidak segera mengambil langkah agresif untuk membendung penyebaran virus tersebut.

Alih-alih menjadikan masukan, Trump menyebut studi itu "hoaks baru".


Sikap Trump memicu tanggapan serupa dari sebagian besar pemerintah negara bagian. Dilansir Japan Times, sejumlah ahli kesehatan menganggap AS tidak memiliki prosedur tanggap virus corona secara nasional yang bisa sama-sama diterapkan di seluruh negara bagian.

"Amerika Serikat bukan satu monolit, ada 50 negara bagian yang menerapkan aksi tanggap berbeda mulai dari gubernur hingga departemen kesehatan," kata ahli bedah umum sekaligus seorang profesor kebijakan kesehatan Universitas Harvard, Dr. Thomas Tsai.

AS merupakan salah satu negara yang hingga kini tidak menerapkan penguncian wilayah (lockdown) secara nasional. Meski begitu, sejumlah negara bagian menerapkan kebijakan masing-masing menahan penyebaran corona seperti menutup sekolah, perkantoran, pusat perbelanjaan, bar, tempat hiburan, dan tempat publik lainnya.

Gedung Putih juga telah mengeluarkan larangan berkumpul lebih dari 10 orang sejak 18 Maret lalu. Namun, kebijakan itu tidak bersifat perintah, melainkan imbauan.
Sikap Trump dan Lonjakan Virus Corona di ASTempat tidur untuk pasien virus corona di Amerika Serikat. (AFP/SPENCER PLATT)
AS juga tidak menghentikan sementara sistem transportasi umum, sehingga masih banyak penduduk yang melakukan perjalanan baik domestik bahkan internasional mengingat libur musim semi tengah berlangsung sejak akhir Februari lalu hingga pertengahan April.

Menurut Tsai, AS memerlukan satu prosedur yang terkoordinasi dan terintegrasi antar-sesama negara bagian dan juga antara pemerintah federal dengan pemerintah negara bagian.

"Saya pikir apa yang dibutuhkan adalah upaya terkoordinasi secara nasional, bukan respons tambal sulam terutama terkait penerapan kebijakan pergerakan masyarakat," kata Tsai.
HALAMAN :
1 2