Respons Kritik Trump, WHO Minta AS Tak Politisisasi Corona

CNN Indonesia | Kamis, 09/04/2020 11:39 WIB
Respons Kritik Trump, WHO Minta AS Tak Politisisasi Corona Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus merespons kritik Trump. (Foto: FABRICE COFFRINI / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Kesehatan Dunia (WHO) merespons pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menuding organisasi tersebut bias terhadap China selama pandemi virus corona. Trump bahkan mengancam akan menyetop bantuan AS terhadap WHO.

Menanggapi pernyataan Trump, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanmos Ghebreyesus meminta Trump untuk tidak mempolitisasi virus corona dengan mengeluarkan ancaman.

"Tolong jangan mempolitisasi virus ini. Ini sama saja dengan memanfaatkan perbedaan yang Anda alami di tingkat nasional. Jika Anda ingin dieksploitasi dan jika ingin melihat lebih banyak korban meninggal berjatuhan," ujar Gheyebreyesus dalam konferensi pers di Jenewa, Swiss, rabu (8/4) seperti mengutip CNN.


"Jika Anda tidak ingin lebih banyak kantung mayat, maka Anda sebaiknya menahan diri untuk mempolitisasinya. Pesan saya, tolong karantina politisasi Covid. Persatuan negara Anda sangat penting untuk mengalahkan virus berbahaya ini," ujarnya menambahkan.

WHO mengimbau persatuan global untuk memerangi penyebaran pandemi virus corona. Di awal Januari lalu, WHO sempat memperingatkan seluruh negara anggota akan potensi penyebaran virus dan merilis panduan untuk mendeteksi potensi infeksi corona.

Namun belakangan WHO menjadi pusat perhatian setelah penyebaran virus corona di luar China terjadi kian massif. AS kemudian menyalahkan organisasi itu setelah kasus Covid-19 global melonjak menjadi lebih dari satu juta.

"Kami mengatakan kami telah melakukan semua yang kami bisa, tetapi kami akan terus melakukan segalanya, siang dan malam, seperti yang telah kami lakukan untuk menyelamatkan hidup. Kami tidak ingin membuang waktu," ungkap Gheyebreyesus.

Respons Kritik Trump, WHO Minta AS Tak Politisisasi CoronaFoto: CNN Indonesia/Fajrian

Dia menambahkan bahwa organisasi melakukan penilaian setiap tindakan yang diambil saat menghadapi masalah kesehatan masyarakat dunia tersebut, dan WHO akan terus belajar dari kesalahan ataupun keberhasilan menangani virus.

"Kami akan melakukan penilaian mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan," 

Trump meragukan transparansi China terkait penanganan pandemi corona. Trump mengkritik WHO, mengklaim telah meremehkan virus, dan mengancam akan menarik dana untuk organisasi, meskipun ia kemudian mundur dari pembicaraan tersebut.

"Saya tidak mengatakan saya akan melakukannya (menarik dana), tetapi kita akan melihatnya," kata Trump.

Lebih lanjut, Trump menggarisbawahi tindakan WHO yang tidak mendukung pembatasan perjalanan dari China. Selang sehari, Trump kembali mengkritik WHO termasuk menekankan hubungan organisasi dengan China.

"Saya tidak percaya dia berbicara tentang politik ketika Anda melihat hubungan mereka dengan China. Jadi China menghabiskan US$42 juta, kami menghabiskan US$450 juta dan semuanya tampak seperti cara China. Itu tidak benar, itu tidak adil bagi kami dan jujur itu tidak adil bagi dunia, "kata Trump.

Trump menyiratkan bahwa seharusnya akan ada lebih sedikit kematian akibat virus corona jika WHO memberikan analisis yang lebih baik.

"Saya pikir ketika Anda mengatakan lebih banyak kantong mayat, saya pikir kami akan melakukannya, dan dia (WHO) akan jauh lebih baik melayani orang-orang yang seharusnya dia layani jika mereka memberikan analisis yang benar," kata Trump.

Politikus Partai Republik itu mempertanyakan mengapa WHO memberikan "rekomendasi yang salah" yang dianggap membela China. Ia menegaskan akan mengerahkan seluruh pengaruhnya 'untuk menahan' bantuan AS bagi WHO.

"Kami akan menahan uang yang kami habiskan untuk WHO. Kami akan mempertimbangkan menghentikan bantuan ini," kata Trump pada Selasa (7/4) seperti dilansir dari AFP.

Sejauh ini AS memang menjadi donor terbesar organisasi kesehatan itu. Namun Trump tidak menjelaskan secara detail berapa banyak bantuan yang akan ditangguhkan. (ara/evn)

[Gambas:Video CNN]