Taiwan Nol Kasus Corona untuk Pertama Kali, Penanganan Dipuji

CNN Indonesia | Rabu, 15/04/2020 09:41 WIB
A medical staff member (C) wearing protective clothing to help stop the spread of a deadly virus which began in the city, walks at the Wuhan Red Cross Hospital in Wuhan on January 24, 2020. - Chinese authorities rapidly expanded a mammoth quarantine effort aimed at containing a deadly contagion on January 24 to 13 cities and a staggering 41 million people, as nervous residents were checked for fevers and the death toll climbed to 26. (Photo by Hector RETAMAL / AFP) Ilustrasi tenaga medis yang menanganani virus corona. (Hector RETAMAL / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Taiwan untuk pertama kali dalam sebulan terakhir melaporkan nol kasus baru virus corona, Selasa (14/4). Menteri Kesehatan Chen Shih-chung, mengatakan nihil kasus Covid-19 ini merupakan kali pertama dalam 36 hari.

Taiwan hingga kini memiliki 393 kasus virus corona, 6 kematian, dan 124 pasien sembuh.

Menurut harian Taiwan News, dari 393 kasus itu, 338 di antaranya merupakan imported case, yakni penularan virus dari warga asing atau warga mereka yang baru datang dari luar negeri.



Seperti dikutip dari Anadolu Agency, Taiwan memang belum melakukan penguncian wilayah, dan kehidupan relatif normal dengan sekolah dan bisnis berjalan seperti biasa.

Namun pemerintah telah menyerukan seluruh warga untuk memakai masker saat keluar rumah serta menjalankan protokol pencegahan Covid-19.

Pelajaran untuk dunia

Taiwan mendapat pujian karena dianggap berhasil mengendalikan penyebaran virus corona di dalam negeri. Sejumlah pengamat menuturkan prestasi Taiwan ini benar-benar meningkatkan citra dan kapabilitas wilayah tersebut, terutama terkait sistem kesehatan di panggung dunia.

Respons pemerintah dalam menanggapi wabah dianggap efektif untuk menekan penularan Covid-19.
Taiwan Nol Kasus Corona untuk Pertama Kali, Penanganan DipujiFoto: CNN Indonesia/Fajrian

Mereka telah mempersiapkan secepat mungkin untuk menghadapi pandemi ini sehingga bisa meminimalisir kematian di wilayah dengan populasi 23 juta jiwa itu.

Taiwan bahkan disebut telah memperingatkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahwa virus corona bisa menjadi ancaman global pada 31 Desember lalu.

Namun menurut laporan Dewan Hubungan Luar Negeri yang berbasis di Amerika Serikat, peringatan potensi penularan corona dari manusia ke manusia yang disampaikan Taiwan itu tidak mendapat tanggapan.

"WHO malah mendukung penolakan China terhadap penularan dari manusia ke manusia sampai 21 Januari. WHO juga terlihat meremehkan ancaman global. Sementara Taiwan tetap melakukan langkah-langkah pencegahan untuk menahan virus, menguji, melacak kontak, dan menegakkan karantina," kata laporan itu.


Presiden Tsai Ing-wen juga dipuji karena kepemimpinannya sangat menentukan selama krisis corona.

"Pada Januari lalu, ketika muncul tanda awal munculnya penyakit itu, dia [Tsai] memperkenalkan 124 langkah untuk menahan penyebaran, tanpa harus menggunakan penguncian yang umumnya dilakukan di negara lain," kata sebuah artikel di Majalah Forbes.

Selain itu, Taiwan juga dinilai berhasil mengendalikan pasokan alat kesehatan seperti masker dan hand sanitizer sehingga tidak menjadi langka dan mahal.

Belajar dari pengalaman menanggulangi SARS pada 2003 lalu, Taiwan segera mengambil alih semua pasokan masker di negara itu ketika wabah corona mulai menyebar di China.


Taiwan selama ini dianggap China sebagai wilayah pembangkang lantaran berupaya memerdekakan diri dari Negeri Tirai Bambu.

China bahkan sempat memprotes WHO lantaran memasukkan Taiwan sebagai negara sendiri dalam laporan penanganan corona. Akhirnya, WHO merevisi laporan tersebut dengan menganggap Taiwan bagian dari China.

Hingga Rabu (15/4) pagi, virus corona telah menginfeksi 1.998.111 orang di lebih dari 200 negara, sebanyak 126.604 kematian, dan 478.659 sembuh. (dea)

[Gambas:Video CNN]