Menteri di Afsel Didenda usai Kunjungi Teman saat Lockdown

CNN Indonesia | Jumat, 24/04/2020 00:39 WIB
People living near the traditional medicine market wait to receive food baskets from private donors, Monday, April 13, 2020 downtown Johannesburg. Because of South Africa's imposed lockdown to contain the spread of COVID-19, many are not able to work. The new coronavirus causes mild or moderate symptoms for most people, but for some, especially older adults and people with existing health problems, it can cause more severe illness or death.(AP Photo/Jerome Delay) Protes warga Afrika Selatan saat lockdown karena virus corona. (Foto: AP/Jerome Delay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Komunikasi dan Teknologi Digital Afrika Selatan Stella Ndabeni-Abrahams dinyatakan bersalah setelah melanggar aturan untuk tetap berada di rumah selama lockdown akibat Covid-19. Ndabeni-Abrahams dinyatakan bersalah setelah ketahuan keluar makan siang ke rumah teman.

Otoritas Kejaksaan Nasional Afrika Selatan mengatakan Ndabeni dinyatakan bersalah dan diharuskan membayar denda sebesar 1.000 rand atau sekitar Rp800 ribu.

Ia ketahuan keluar rumah saat mendapat cuti khusus corona di awal April lewat sebuah unggahan di Instagram. Dalam foto tersebut ia terlihat menikmati makan siang dengan mantan deputi menteri.


Selain diharuskan membayar denda, Ndabeni-Abrahams juga harus menghadapi persidangan bulan Mei mendatang.

Mengutip AFP, pemerintah menyatakan kunjungan makan siang yang dilakukannya melanggar hukum di tengah keharusan untuk tetap tinggal di rumah selama lockdown.

Menteri di Afsel Didenda usai Kunjungi Teman saat LockdownFoto: CNN Indonesia/Fajrian
Selama lockdown, warga diminta untuk tetap di rumah dan hanya dibolehkan keluar untuk belanja kebutuhan pokok, membeli obat, atau ke rumah sakit.

Atas kesalahannya itu, Ndabeni-Abrahams menyatakan permintaan maaf kepada publik.

Presiden Cyril Ramaphosa menjatuhi hukuman bagi Ndabeni-Abrahams dibebaskan dari tugasnya sebagai menteri selama dua bulan.

Afrika Selatan mengumumkan kebijakan penutupan wilayah atau lockdown sejak 27 Maret hingga akhir April.

Kebijakan tersebut memicu permasalahan baru seperti aksi penjarahan, kekerasan terhadap perempuan dan kekerasan rumah tangga hingga kerusuhan massa.

Setidaknya ada 2.300 laporan kekerasan terhadap perempuan dan lebih dari 148 orang telah ditangkap dalam sehari diberlakukan aturan lockdown. Aparat kepolisian dan tentara yang dikerahkan untuk melakukan pengamanan dituduh melakukan aksi brutal terhadap warga.

Hingga saat ini Afrika Selatan mencatat 3.456 kasus virus corona dan menjadi negara yang paling terdampak di benua Afrika setelah Mesir. (AFP/evn)

[Gambas:Video CNN]