Osman yang tinggal di ibu kota Albania, Tirana itu menceritakan lembaran hitam negara tersebut di masa lampau--saat era komunisme--di mana mempraktikkan ajaran agama bisa berisiko kematian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami harus salat di balik tembok rumah kami karena takut berakhir di penjara, atau dihukum mati," kenang Osman seperti dikutip dari AFP.
"Selama rezim komunis kami harus mempraktikkan puasa diam-diam karena jika orang melihat kami, itu bisa membahayakan nyawa kami, seperti sekarang kita berisiko mati akibat sebuah virus," tambah istri Osman, Minire, 74.
Osman Hoxha menjadi imam salat bagi anak dan cucunya. Mereka terpaksa salat di rumah, karena masjid saat ini ditutup akibat pandemi corona. (AFP/GENT SHKULLAKU) |
Selama 40 tahun di bawah kepemimpinannya, ratusan masjid dan gereja di Albania dihancurkan atau dialihfungsikan. Lusinan pendeta dan ulama dihukum untuk kerja paksa, dan banyak di antaranya meninggal di penjara atau dibunuh regu tembak.
Total, diperkirakan sekitar 6.000 orang dieksekusi rezim Enver Hoxha dengan tuduhan kejahatan dari mulai pengkhianatan, perjalanan ke luar negeri, hingga mempraktikkan keyakinan beragama.
Puluhan ribu lagi dikirim ke penjara atau kamp kerja paksa. Satu di antara yang harus mengikuti kerja paksa itu adalah Osman.
Osman Hoxha menikmati sajian buka puasa bersama anak dan cucu-cucunya. (AFP/GENT SHKULLAKU) |
Meskipun berada di bawah bayang-bayang ketakutan rezim, Osman dan keluarganya tetap memelihara dan menjaga iman mereka. Mereka mempraktikkan ajaran-ajaran Islam secara rahasia hingga rezim tumbang, dan kebebasan beribadah terbuka kembali pada awal dekade 1990an.
Hari ini, di saat harus hanya kembali bisa beribadah di rumah akibat pandemi corona, Osman mengaku teknologi telah sangat membantu--terutama dalam menjalin silaturahmi.
Sebelumnya, keluarga besar Osman selalu melewatkan hari pertama Ramadan dengan melakukan buka puasa bersama. Setidaknya, 20 orang melaksanaka iftar di meja makan bersama-sama.
tapi, tahun ini jumlah anggota grup itu turun. Osman dan istrinya berbuka puasa hanya ditemani anak, menantu, dan cucu-cucu mereka yang kebetulan tinggal di satu flat. Mereka pun hanya bisa bertemu denga anggota keluarga lain via telepon video.
Setelah berbuka puasa, Osman menjadi imam salat berjamaah untuk anak dan dua cucunya. Mereka salat di ruang keluarga, karena masjid saat ini ditutup akibat pandemi corona. (afp/kid)
Osman Hoxha menjadi imam salat bagi anak dan cucunya. Mereka terpaksa salat di rumah, karena masjid saat ini ditutup akibat pandemi corona. (AFP/GENT SHKULLAKU)
Osman Hoxha menikmati sajian buka puasa bersama anak dan cucu-cucunya. (AFP/GENT SHKULLAKU)