WHO Identifikasi Lonjakan Corona di China, Korsel, dan Jerman

CNN Indonesia | Selasa, 12/05/2020 10:14 WIB
World Health Organization (WHO) Director-General Tedros Adhanom Ghebreyesus speaks during a press conference following a WHO Emergency committee to discuss whether the Coronavirus, the SARS-like virus, outbreak that began in China constitutes an international health emergency, on January 30, 2020 in Geneva. - The UN health agency declared an international emergency over the deadly coronavirus from China -- a rarely used designation that could lead to improved international co-ordination in tackling the disease. (Photo by FABRICE COFFRINI / AFP) Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengidentifikasi lonjakan kasus baru virus corona di China, Korsel, dan Jerman usai pembatasan dicabut. (FABRICE COFFRINI / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus mengidentifikasi lonjakan kasus baru virus corona di China, Korea Selatan, dan Jerman selama akhir pekan kemarin usai sejumlah aturan pembatasan dicabut.

Hal itu disampaikan Ghebreyesus dalam sebuah konferensi pers di Jenewa pada Senin (11/5).

"Selama akhir pekan kami melihat tanda-tanda masalah di depan. Di Korea Selatan, bar dan kelab ditutup karena kasus yang corona dikonfirmasi menyebabkan banyak kontak dilacak," kata Tedros seperti dikutip dari CNN.



Sementara di Kota Wuhan, China, kembali mengumumkan kasus Covid-19 setelah sebulan tanpa kasus infeksi baru.

Jerman juga melaporkan penambahan kasus baru virus corona setelah beberapa hari terakhir secara bertahap membuka kembali aktivitas bisnis.

Pemerintahan Kanselir Angela Merkel baru-baru ini melaporkan klaster baru kasus virus corona di rumah potong hewan dan panti jompo.

Institut Kesehatan Publik Robert Koch (RKI) mengatakan saat ini masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan adanya gelombang kedua virus corona. Namun adanya laporan infeksi baru membuat pemerintah dan warga perlu mewaspadai potensi perkembangannya dalam beberapa hari mendatang.

"Untungnya, ketiga negara tersebut memiliki sistem untuk mendeteksi dan menanggapi kebangkitan kasus baru," ujar dia
Foto: CNN Indonesia/Fajrian

Tedros mengatakan WHO telah merilis pedoman dan enam tahapan untuk dipertimbangkan negara sebelum mencabut atau melonggarkan lockdown atau penguncian wilayah.

"WHO bekerja sama dengan pemerintah untuk memastikan sejumlah langkah penting kesehatan masyarakat tetap dilakukan guna menghadapi masalah saat mencabut penguncian," kata dia.

"Sampai ada vaksin, sejumlah langkah komprehensif pencegahan akan paling efektif untuk dilakukan," ujarnya.

Sebelumnya dia juga telah mengingatkan negara-negara di dunia untuk tidak terburu-buru mencabut atau melonggarkan status lockdown.


Ghebreyesus memperingatkan bahwa langkah yang terburu-buru seperti itu dapat membuka potensi Covid-19 kembali mewabah, mengancam kehidupan masyarakat lebih lanjut.

"Mencabut pembatasan terlalu cepat dapat menyebabkan kebangkitan yang mematikan," kata Tedros seperti dilansir dari AFP.

Tak hanya Tedros, Presiden Institut Pasteur dan mantan Kepala Institut Penelitian Medis Nasional Prancis INSERM Christian Brechot, turut  memperingatkan kepada masing-masing pemerintahan untuk hati-hati dalam menghadapi virus yang sudah diremehkan banyak negara tersebut.

Beberapa hari lalu, pejabat Jaringan Peringatan dan Respons Wabah Global Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Dale Fisher, menyebut vaksin virus corona kemungkinan baru akan siap pada akhir 2021.


Lini masa ini, katanya, sangat masuk akal mengingat kebutuhan uji coba Fase 2 dan 3 dari tiap vaksin untuk menjamin keamanan dan kemanjuran. Selain itu, perlu ada waktu bagi peningkatan produksi dan distribusi, serta pemberian vaksin.

Menurut Fisher, saat ini target mendapatkan vaksin pada 2021 terus diupayakan dengan fase pertama yang masih berjalan. (dea)

[Gambas:Video CNN]