Dilansir AFP, Investigasi Georgia menyatakan Bryan didakwa melakukan pembunuhan dan pelanggaran hukum dalam kaitan dengan kematian Arbery pada Februari lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kematian Arbery menimbulkan reaksi keras di seluruh AS hingga Presiden AS Donald Trump. Bahkan, para aktivis mengatakan kematian Arbery menjadi bukti aksi rasial masih mengakar kuat di beberapa negara bagian Negeri Paman Sam.
Sebelumnya menurut laporan polisi, Gregory mengira Arbery adalah tersangka dalam serangkaian perampokan. Dia melihat pemuda itu ketika berdiri di halaman depan rumahnya.
Gregory langsung masuk ke dalam rumah untuk mengambil pistol Magnum 357. Sementara putranya membawa senapan, dan mereka langsung memburu Arbery.
Sang ayah mengaku melihat putranya menembak Arbery dua kali dan Arbery jatuh ke tanah.
Kejaksaan Agung negara bagian Georgia telah meminta Departemen Kehakiman AS untuk menyelidiki tuntas penembakan fatal tersebut. (jal/vws)