Tunangan Tolak Pemberian Maaf untuk Para Pembunuh Khashoggi

CNN Indonesia | Jumat, 22/05/2020 16:35 WIB
Sejumlah jurnalis melakukan aksi solidaritas bagi wartawan Arab Saudi Jamal Khashoggi di depan Kedutaan Besar Arab Saudi, Jakarta, Jumat (19/10/2018). Aksi tersebut sebagai bentuk keprihatinan atas hilangnya Jamal Khashoggi yang diduga tewas saat berada di konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki pada 2 Oktober lalu. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/ama. Ilustrasi. Pembunuhan Jamal Khashoggi diduga dilakukan oleh Kerajaan Arab Saudi. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wanita asal Turki yang merupakan tunangan wartawan asal Arab Saudi yang terbunuh secara tragis, Jamal Khashoggi mengatakan pada hari Jumat (22/5) bahwa "tidak ada" yang memiliki hak untuk mengampuni pembunuh setelah putra Khashoggi mengatakan telah "memaafkan" para pembunuh ayahnya.

Khashoggi - orang dalam keluarga kerajaan yang berubah menjadi kritikus - dibunuh dan jasadnya dipotong-potong di konsulat Saudi di Istanbul pada Oktober 2018.

Putra Mahkota Mohammed bin Salman diduga memerintahkan pembunuhan itu, tetapi pihak kerajaan membantahnya.



"Penangkapan dan pembunuhannya amat keji dan tidak ada yang berhak untuk mengampuni pembunuhnya. Saya dan yang lainnya tidak akan berhenti sampai kita mendapatkan #JusticeForJamal," tulis tunangan Khashoggi, Hatice Cengiz, melalui cuitannya di Twitter.

"Para pembunuh datang dari Saudi dengan persiapan untuk memancing, menyergap, dan membunuhnya ... Kami tidak akan mengampuni para pembunuh atau mereka yang memerintahkan pembunuhan," tambahnya.



Cengiz menanggapi cuitan putra sang kolumnis Washington Post, Salah Khashoggi, yang mengatakan di Twitter bahwa anak-anak Khashoggi memaafkan "mereka yang membunuh ayah kami" di bulan Ramadhan.

Pengamat percaya cuitan itu bisa menyelamatkan nyawa lima orang yang tidak disebutkan namanya yang dijatuhi hukuman mati atas pembunuhan dalam putusan pengadilan pada Desember.

Pejabat Turki mengatakan Khashoggi (59) dicekik dan tubuhnya dipotong-potong oleh 15 orang kelompok Saudi di dalam misi kerajaan itu. Jasadnya tidak pernah ditemukan.


[Gambas:Video CNN]

(AFP/ard)