Aksi protes ini menganggap kebijakan lockdown pemerintah sebagai tindakan otoriter. Kebijakan untuk membatasi penyebaran virus ini dianggap menyerang kebebasan individu.
Aksi protes ini menyatukan beragam kelompok mulai dari para teori konspirasi, ekstrimis, anti-vaxxers, dan orang-orang yang peduli tentang pembatasan kebebasan sipil.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Protes juga diadakan di seluruh negeri, termasuk di Nuremberg, Munich dan Stuttgart, meskipun tidak sebanyak dalam beberapa pekan terakhir, terutama karena cuaca buruk.
Di Hamburg, 750 orang berdemonstrasi, sementara 120 orang yang tidak sah dibubarkan oleh polisi dengan meriam air, menurut juru bicara kepolisian.
Polisi di seluruh Jerman melakukan beberapa penangkapan, termasuk salah satu tokoh utama gerakan itu, aktivis Attila Hildmann, yang berpartisipasi dalam demonstrasi tanpa izin terhadap sekitar 100 orang di Berlin, menurut surat kabar Jerman Der Spiegel.
Demonstrasi ini telah dilakukan tiap pekan sejak awal April lalu. Aksi demonstrasi ini terus membesar hingga diikuti ribuan orang di Jerman dalam beberapa pekan terakhir. Demonstrasi ini dilakukan di berbagai kota-kota besar Jerman.
"Saya tidak mengerti mengapa kita tidak bisa kembali normal sekarang," kata pemrotes lain, Moritz, 28.
"Virus corona telah membunuh jauh lebih sedikit daripada flu dalam beberapa tahun terakhir," tambahnya.
Kanselir Angela Merkel yang menjadi target demonstrasi, mengatakan bahwa pembatasan terhadap virus corona memang "diperlukan".
Lihat juga:Munculnya Gejala-gejala Langka Virus Corona |
Jerman mulai mengendurkan pembatasan yang diberlakukan untuk mengendalikan penyebaran virus pada awal Mei, karena melihat penurunan kuat dalam kasus-kasus baru.
Namun kekhawatiran masih ada gelombang kedua di negara itu, yang tidak terlalu terpengaruh dibandingkan beberapa negara tetangganya di Eropa. (eks)