Jerman dan New Normal dari Belenggu Corona

CNN Indonesia | Sabtu, 16/05/2020 12:25 WIB
Student Lana (C) and her flatmates prepare self-made pizzas in the kitchen of a flat-sharing in Dortmund, western Germany, on March 27, 2020, amidst the pandemic of the new coronavirus COVID-19. - There's group yoga in the morning, homemade pizza in the evening and always someone to borrow toilet paper from. For the six German students sharing a flat in Dortmund, the coronavirus lockdown has its unexpected upsides. With no classes to attend and their social lives interrupted, the four young women and two men sharing a three-bedroom flat are suddenly enjoying a lot of quality time, as they join millions of Germans in staying home to slow the pandemic. (Photo by Ina FASSBENDER / AFP) Ilustrasi mahasiswa di Jerman di masa pandemi virus corona. (AFP/INA FASSBENDER)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dalam sebuah pidato pada Maret lalu, Kanselir Jerman, Angela Merkel, mengatakan pandemi virus corona (Covid-19) merupakan musibah terburuk setelah perang Dunia 2 dan berdampak sangat serius.

Ia melanjutkan pemaparan protokol kesehatan seperti menjaga jarak, melarang keras aktivitas di luar rumah, termasuk penutupan seluruh pelayanan publik, sekolah, universitas, hingga kegiatan bisnis atau usaha, kecuali di bidang logistik dan kesehatan.

Serta pemberlakuan menjaga jarak 1,5 meter di tempat umum dan melarang adanya kegiatan yang melibatkan keramaian.


Hasilnya terlihat di pertengahan April, angka kasus positif mengalami penurunan.


Meski secara bertahap Jerman sudah melonggarkan penguncian wilayah (lockdown), tetapi negara itu berhasil mencapai tujuan awal mereka yaitu memperlambat penyebaran virus.

Dilansir The New York Times, kemajuan ini merupakan kombinasi antara kepemimpinan politik yang berhati-hati, didasari sains, sebaran pengujian, penelusuran kontak sosial, dan menjaga jarak telah memungkinkan negara melakukan pembukaan kembali dengan terkendali.

Saat wabah menyebar, Jerman menutup negaranya seawal mungkin dan secara sistematis menguji beberapa kemungkinan untuk bisa kembali ke kehidupan normal pasca wabah.

Hasilnya, kehidupan yang bersisian dengan virus tidak akan sama lagi dengan kehidupan normal sebelum infeksi ini melanda.

Kepada CNNIndonesia.com, mahasiswa Indonesia di Jerman yang kuliah di Eberhard Karls Üniversität Tübingen Jerman, Akhmad Fauzi Nugroho, merinci setidaknya ada beberapa kunci sukses bagi Jerman memerangi wabah virus corona.

[Gambas:Video CNN]

Pertama soal keterbukaan dan ketepatan data dengan perhitungan statistik ke berbagai skenario terhadap sistem kesehatan yang dimiliki, semua berdasarkan data ilmiah dan presisi.

Kemudian latar belakang Merkel selain sebagai politikus, di masa muda ia tumbuh dengan dunia ilmu fisika kuantum. Setiap langkah yang diambil selalu didasarkan pada bukti ilmiah.

Peran para ahli virolog dari berbagai pusat penelitian, analis kesehatan, ahli biologis, dan analis pertahanan memberikan masukan dan arahan kepada pemerintah dalam koordinasi yang rapi.

Selanjutnya sistem kesehatan Jerman yang bagus, rapid test yang akurat dan massif. Kemudian jaminan pemerintah dalam memberi stimulus ekonomi pada sektor bisnis yang terdampak.

Terakhir adalah kepatuhan masyarakat terhadap protokol yang diberlakukan.

"Selama masa pandemi, kebanyakan masyarakat tinggal di rumah. Mereka keluar rumah hanya di halaman masing-masing. Sesekali juga ada yang melakukan rutinitas olahraga seperti jalan kaki di area olahraga terbuka, jogging. Sebagian restoran buka hanya diperbolehkan takeaway. Usaha warga dan layanan publik beralih ke layanan online, (itu) berlaku hingga sekarang," ujar pria berusia 29 tahun itu.

Memasuki masa new normal, masyarakat menerapkan protokol kesehatan sebagai gaya hidup baru normal mereka.

Kebiasaan ini akan tetap berlaku setidaknya hingga vaksin virus ini berhasil ditemukan. Hal itu dimaksudkan karena sewaktu-waktu, gelombang lanjutan dari penularan bisa saja terjadi.
Perancang busana di Jerman membuat gaun pernikahan di masa pandemi virus corona. (Odd ANDERSEN / AFP)
Masyarakat Jerman kini wajib mengenakan masker jika berada di pertokoan dan angkutan umum.

Interaksi sosial di restoran dan bar sudah diizinkan kembali, tetapi dibatasi dan setiap pelanggan harus berjarak sejauh enam kaki.

Masyarakat Jerman sudah terbiasa menjaga jarak sejauh enam kaki di tempat umum. Jadi saat negara kembali dibuka, aturan jarak sosial ketat ini akan tetap berlaku.

Banyak toko secara sukarela menyediakan cairan pembersih di depan pintu masuk, serta memasang pembatas kaca di kasir serta lantai untuk mengendalikan antrean.

Seluruh kelas di setiap sekolah di Jerman akan dibagi dua untuk memberi jarak para pelajar, dan mengetatkan aturan kebersihan.


Pusat penitipan anak akan menerima asuhan lagi dengan memprioritaskan keluarga yang membutuhkan. Panti jompo hanya dapat menerima kunjungan oleh satu orang.

Dengan segala upaya pembukaan kembali, Merkel tetap memperingatkan bahwa negaranya masih berada di fase awal pandemi dan mereka akan berurusan dengan virus untuk waktu yang lama. (ans/ayp)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK